Selasa, 26 Januari 2016

CATATAN KECIL



Januari 2010 

Chandra Mawardika

Panggil saja aku Ochan. Singkat dan unik, jadi familiar untuk diingat. Umurku 15 tahun, namun aku sudah duduk di kelas XII. Karena 2 kali aku ikut kelas akselerasi di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Hari ini pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah Utama Jaya. Sekolah khusus lelaki. Aku deg-degan setengah mati. Aku harus pindah ke sekolah yang terletak di pedesaan pinggiran provinsi Jawa Tengah. Kedua orang tuaku meninggal bersamaan di Bengkulu tempat kami tinggal dulu karena kecelakaan. Dan aku anak semata wayang. Tanpa sanak saudara di Bengkulu maka jadilah aku ikut Pakdhe Jayadi kakak ibuku untuk meneruskan sekolahku. Kebetulan Pakdhelah yang memiliki sekolah ini. Dan itu juga yang menyebabkan aku punya hak istimewa tidak tinggal di asrama tapi di rumah Pakdhe yang notabene juga masih dalam lingkungan sekolah. Hak istimewa itu aku dapatkan bukan karena aku anak manja yang tak bisa mandiri tapi karena aku PEREMPUAN.

Tak ada sekolah yang mau menerimaku karena kepindahan yang dekat dengan Ujian Akhir Semester dan Ujian Nasional. Sekolahku yang dulu keberatan tetap menerimaku. Mereka khawatir biaya sekolah tidak dapat terbayar dan mengistimewakan aku berarti harus berhadapan dengan orang tua murid yang lain(terutama orang tua murid yang memberikan uang sumbangan tertinggi). Jadi inilah pilihan satu-satunya bersekolah di sekolah Pakdheku sendiri khusus lelaki. Untuk itu aku harus menyamar sebagai lelaki. Rambut sebahuku rela dipotong, suara nyaring diubah bass. Cara jalan feminin berubah gagah dengan membusungkan dada. Sementara dadaku harus diikat agar rata dan baju yang kupakai lebih besar dari ukuran sewajarnya.

Aku berpikir aku bisa menghadapi ini semua. Aku hanya bersekolah disini sekitar 2-3 bulan. Setelah pengumuman kelulusan aku akan ke Jakarta. Kuliah dan menetap di sana bersama Tante Ragil adik bungsu ayahku yang belum menikah.

Andi Ikhsanuddin

Hari Senin yang membosankan. Ungkapan 'I Hate Monday' ada benarnya juga sekarang batinku. Aku tak bersemangat mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia yang diampu Bu Liliana. Padahal biasanya aku menikmati pelajaran yang diberikan guruku ini. Cara mengajarnya enak sekali penuh diskusi dan praktek, entah itu pementasan mini di kelas atau pembacaan puisi. O,ya Ikhsannuddin namaku tapi teman-teman biasa menyebutku Ichan. Asalku dari Gowa provinsi Sulawesi Selatan. Sejak kelas X aku bersekolah di sini, "dikirim" orang tuaku agar aku belajar mandiri. Saat aku bermalas-malasan. Tiba-tiba saja pintu diketuk, Wakil Kepala Sekolah Bapak Yuda masuk ke kelas dengan membawa (kupikir) murid baru. Aku menegakkan kepala. Rasa keingintahuanku membunuh rasa malasku. Kelas riuh seketika dengan bisikan-bisikan seluruh murid. Walau isi kelas hampir semua lelaki tapi kebiasaan berbisik-bisik tetap saja ada.

"Hemm...Ehem..Ehem... Mohon perhatiannya sebentar, Anak-anak!" dehem Pak Yudha. "Yak! Sebentar saja." suaranya meninggi. Suara riuh berhenti. Semua mata tertuju ke depan, kepada Pak Yudha dan murid baru itu. "Terima kasih. Ini murid baru, dari Bengkulu. Silakan Chandra, perkenalkan dirimu!"

Murid baru itu terlihat gugup. Dan menurutku murid baru itu sedikit aneh. Badannya relatif lebih pendek dan kecil dibandingkan kami para lelaki. Jalannya terlihat dibuat-buat. "Nama saya Chandra Mawardika. Panggil saja Ochan." Ia berbicara sambil sebentar-sebentar menundukkan kepala. "Mohon bantuannya , Teman-teman.", sambungnya hampir tak terdengar.

" Begitu, Anak-anak. Bu Liliana, saya tinggal dulu...", Pak Yudha meninggalkan kelas sambil melambaikan tangan ke arah murid-murid.

 "Baik, Pak Yudha. Siapa ketua kelas di sini?", Bu Liliana bertanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kelas. Matanya terhenti di aku. "Ikhsan?" Aku mengangkat tangan lalu mengangguk. Aku melirik ke sebelah kiriku. Ada bangku kosong di situ. "Kamu bisa duduk disebelah Ikhsan. Dan Ikhsan mohon bantuannya untuk mngenalkan sekolah kita pada Chandra." ujar Bu Liliana. Aku mengangguk. Chandra atau Ochan duduk di sebelahku. "Kita teruskan pelajaran, Anak-anak...".

" Mohon bantuannya..." bisik Ochan pelan.

"Panggil saya Ichan. Lucu juga, nama panggilan kita hanya berbeda satu huruf." sahutku sambil tersenyum. "Pasti aku akan membantu. Tenang saja, aku adalah guide terbaik.", sambungku lagi.


                                                                               *****
(bersambung)

MkS,260116

#OneDayOnePost#HariKeduabelas




1 komentar:

Airhein mengatakan...

ditunggu kelanjutannya :)

Posting Komentar