Selasa, 26 Januari 2016

SATU JAM

Rindang melangkahkan kakinya menuju sebuah kafe terkenal yang menjual kopi di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Hari ini dia harus berangkat ke Jakarta.  Ia melirik jam tangannya. Masih ada waktu untuk sekedar menikmati segelas kopi panas dan seiris brownis.

Baru saja ia memasuki kafe , seseorang yang tak ia kenal melambaikan tangan. Rindang menunjuk dirinya untuk meyakinkan bahwa dialah yang dipanggil. Orang itu mengangguk. Rindang menghampirinya dan duduk berseberangan dengan orang itu.  Hatinya masih belum yakin, jarang sekali ada orang tak dikenal mengajak minum kopi. Di atas meja terhidang dua gelas kopi latte.

"Maaf, tapi tadi Anda mau membeli kopi kan?" ujar orang itu dengan senyum ramahnya seraya mendorong gelas kopi satu lagi ke depan Rindang, tepat setelah Rindang duduk dihadapannya.

"Iya, benar..." Rindang menganggukkan kepalanya.

"Ini tadi kebetulan ada promo, beli satu gratis satu. Saya hanya sanggup menghabiskan satu gelas. Sayang yang satu gelas lagi."

"Oh." jawab Rindang pendek. Wajahnya tampak ragu, antara ingin menerima kopi tersebut atau tidak.

"Tenang, saya tidak menaburkan sianida.." Ia tertawa kecil. "Toh kamu bukan anak konglomerat yang akan mewarisi sebuah perusahaan kan? Atau...."

Rindang cepat-cepat menggeleng. " Tapi kata mamaku, dilarang mengambil makanan dan minuman yang diberi orang asing..."

Orang itu menyodorkan tangannya. "Genta. Nama saya Genta Ardianto."

Rindang menyambutnya dengan senyum kecil. "Rindang Septarini. Cukup panggil Rindang."

"Jadi, kita sudah kenal sekarang. Silakan...."

Rindang tertawa. "Oh, baiklah. Terimakasih, Genta.. Tapi tunggu sebentar, saya akan melengkapi kopi kita ini. Suka brownis?"

Genta mengacungkan jempolnya. Rindang pergi membeli dua buah brownis lalu membawanya kembali ke meja.

Berdua mereka meminum kopi, menyesap kopi lamat-lamat menikmati rasa dan aroma yang ada.

"Penikmat kopi rupanya. Ah, perjalanan kali ini jadi tidak membosankan. Bertemu orang dengan hobi sama terasa menyenangkan." ujar Genta.

"Iya, betul juga. Hmmm... perjalanan kemana, Genta?"

"Ke Jakarta. Kira-kira tiga jam lagi saya take off. Kamu bagaimana, Rindang?"

"Hei... sama... Saya juga menuju Jakarta ini. Tapi, saya satu jam ke depan harus masuk pesawat. Kenapa berangkat ke Jakarta?"

"Saya? Biasa saya ini 'orang suruhan'. Pekerjaan, Rindang. Tapi saya terus berdoa semoga ini pekerjaan terakhir saya. Selepas pekerjaan ini saya akan ke Suriah atau Iran, jadi relawan di sana."

"Iya, saya juga 'orang suruhan'. Ini tugas dari kantor harus ke Jakarta. Lima hari, Genta. Padahal saya sudah berencana menghadiri reuni SMA tiga hari dari sekarang." Rindang terlihat agak kesal. Genta menertawakan ekspresi wajah Rindang.

"Tahu tidak Genta, saya ini paling tidak suka naik pesawat terbang. Terasa dekat dengan kematian. Saya percaya perlindungan Tuhan, sih. Tapi itu.. rasanya mengganggu. Cukup aneh, tidak menurutmu?"

"Kalau kamu percaya Tuhan, saya pikir itu tidak aneh. Tapi, apakah kamu juga percaya adanya karma, Rindang? Karena saya tidak percaya. "

"Dalam keimanan saya, setiap perbuatan yang dilakukan manusia pasti ada konsekuensinya. Entah itu seperti karma atau lainnya... Intinya saya percaya karma." ujar Rindang serius.

"Kamu menarik ya, Rindang. Jarang ada orang bisa berbicara akrab dan serius begini saat pertemuan pertama."

" Tergantung yang diajak bicara, dong Genta." sahut Rindang ringan. Lalu mereka berbincang-bincang hal lainnya, gosip artis, berita terkini sampai falsafah hidup. Pembicaraan mereka terhenti ketika terdengar pemberitahuan bahwa Rindang harus sudah memasuki pesawatnya yang menuju Jakarta.

"Sampai jumpa lagi, Rindang. Jika ada waktu dan umur." ujar Genta tersenyum. "Senang bertemu denganmu."

"Baiklah, Genta. Sampai jumpa lagi. Sama, menyenangkan bisa berkenalan dengan kamu." Mereka berjabat tangan.

                                                                              *****

Rinda merebahkan dirinya ke atas spring bed sejenak setelah sampai di hotel tempatnya menginap di Jakarta. Penat ditubuhnya sedikit berkurang akibat perjalanan dari Makassar. Ia meraih remote lalu menyalakan televisi.

Alangkah terkejutnya Rindang mendengar berita terkini yang ditayangkan up to date setiap satu jam itu.

"Tersangka pembunuhan Menteri Luar Negeri berhasil ditangkap berkat kesigapan aparat kepolisian dan petugas Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kini tersangka berinisial GA diperiksa secara intensif..........."

Mata Rindang hampir melompat keluar melihat tersangka yang ditutup mukanya menggunakan kain sarung memakai baju dan celana yang sama persis dengan Genta. Teman barunya berbicara selama satu jam di kafe tadi. Ia tak percaya. Genta begitu hangat dan bersahabat, tidak ada 'bayangan' sedikit pun ia dapat membunuh seseorang.

MkS,  260116

#OneDayOnePost#HariKesepuluh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar