Hari ini hari Senin. Pagi yang agak mendung, matahari
malu-malu memancarkan sinarnya. Eka tergesa memasuki kantor, meletakkan tas dan
dua tas ekstra di atas meja kerjanya. Ia melambai sambil tersenyum ke arah Dwi
yang duduk berseberangan dan sibuk dengan laptopnya.
“Buru-buru amat, Eka. Masih setengah delapan. Masih sepi
kantor, yang datang baru aku, kamu dan Pak Johan. Eh, Iman juga sudah datang
paling pagi untuk bersih-bersih ruangan.“, kata Dwi mendongakkan kepalanya
sejenak membalas senyuman lalu berkutat lagi ke laptopnya.
“Iya nih, iya... Aku kebelet. Mana belum absen lagi, nanti
takut tertinggal apel pagi, Dwi...”
“Yaelah, apel pagi setengah jam lagi kalii.... Ke toilet
berapa lama, sih?”, sahut Dwi dengan tatapan mata tetap ke laptop.
“Hadeeh... Nanti deh... Aku cerita... Absen dulu ya,
Say...” Eka setengah berlari menuju ruang Kepegawaian untuk absen finger
print.
Sampai apel pagi akan dimulai, Eka belum kembali dari
ruang Kepegawaian. Dwi tidak ambil pusing. Ia hafal betul sifat temannya. Eka
belum kembali pasti karena asyik ngobrol dengan Bu Asri dan Pak Rudi. Setelah
apel nanti Dwi menduga bahwa kubikelnya akan dipenuhi celotehan Eka dan anggukan Tri.
“Mana Eka?”, tanya Tri setelah duduk di kubikelnya sendiri
yang bersebelahan dengan Dwi.
“Nggak ketemu pas absen tadi, Tri?”
“Aku absen di depan dekat ruang Kepala TU.”
“Oh, biasa. Paling kecantol Bu Asri atau Pak Rudi atau
dua-duanya di Kepegawaian.” Bel tanda apel pagi berdering, Dwi menggamit lengan
Tri. “Yuk, apel dulu. Paling kita diajak diskusi seru sama Eka nanti setelah
apel ini.”
Setelah apel, benar saja Eka menarik tangan Dwi dan
Tri menuju kubikelnya. Matanya berbinar tanda ia tertarik pada sesuatu dan
seperti tidak sabar ingin berbagi cerita dengan kedua sahabatnya. Ia
menyingkirkan tas-tas di atas meja.
“Teman, ambil kursi kalian dulu deh... Biar enak kita
diskusi. Penting ini, penting dan genting!”, ujar Eka dengan gaya berlebihan.
“Aku bawa kabar menarik. Tentang gaji kita sebagai PNS eh ASN ya? Tahun 2016
ini kita akan terima gaji 14 loooh, bukan hanya gaji 13....Itu kata Bu Asri.”
“Hadeeh, Eka...Eka....Itu isu lama kalee. Ada tuh
berserakan di internet. Ketik di bang Google ‘gaji asn 2016’, muncul dah.”,
ujar Tri dengan gaya kalemnya. Dwi yang duduk disebelahnya menganggukkan
kepala.
“Iyakah... Ya sudah, kalau begitu selancar masing-masing
aja untuk lihat gaji tahun ini. Terus...terus... Tahu nggak nama asli kak Laila
itu Laila Purnama Wati bukan Laila Kurniawan, aku tadi lihat di daftar gaji.”
sambung Eka lagi masih dengan berapi-api.
“Eka!”, Dwi dan Tri setengah berteriak menyahut bersama.
Tri menggelengkan kepala.
Dwi menundukkan kepala sambil memegang wajahnya. “Aduh,
Eka..... Sejak kak Laila pindah juga kita sudah tahu. Kamu nggak lihat daftar
absen apa?”. Eka melongo melihat tingkah teman-temannya.
“Ih, absen kita kan per lembar per nama, mana sempat aku
lihat absen kak Laila.” balas Eka.
“Eh,eh,eh... Ada apa ini namaku disebut-sebut?”, suara kak
Laila menyahut. Kubikel Kak Laila bersebelahan dengan Eka. Jadi semua
pembicaraan tiga sekawan otomatis terdengar.
“Ng...Nggak ada apa-apa, Kak... Cuma Eka nih, lupa nama
kakak yang asli.”, jawab Dwi.
“Ooohh... Eka..Eka...”, sahut kak Laila.
“Nah, itu... Menarik... Memang nggak masalah ya begitu?”
Eka bersuara, lebih pelan.
“Tidak masalah deh... Toh cuma sebutan. Untuk keperluan
resmi kak Laila tetap pakai nama asli. Lagi pula dua-dua nama yang dipakai kak
Laila artinya bagus.”, kata Tri. “Ngomong-ngomong arti nama kalian apa? Ahhh
ketebak deh... Eka.. Pasti karena kamu anak pertama kan? Dan Dwi, anak kedua?”
Eka mengacungkan jempol. “Eka memang karena aku anak
Sulung, Cahaya Putri yah.. Artinya begitu itu... Mama dan papaku mengharapkan
anak sulung mereka ‘bercahaya’ menerangi orang-orang sekitarnya.” Eka berkata
sambil menggerakkan tangan layaknya berpuisi.
Dwi menggelengkan kepala. “Sori, Tri. Dugaanmu salah
besar. Ibu dan Bapak memberi nama Dwi karena aku lahir tanggal dua. Kakakku
saja yang lahir tanggal lima namanya Panca. Nah, Ambarwati artinya wanita
berbau wangi berotak cemerlang. Kalau kamu, Tri?”
“Ini dia. Namaku ada Tri bukan juga aku anak ketiga, aku
anak kedua loh.. Kakak dan adikku juga bernama Tri.”
Dwi dan Eka saling berpandangan. Lalu dengan wajah bertanya-tanya mereka memandang ke arah Tri.
Dwi dan Eka saling berpandangan. Lalu dengan wajah bertanya-tanya mereka memandang ke arah Tri.
“Iya...iya... Sebentar aku jelaskan nih. Kedua orang tuaku
juga memakai nama Tri. ayahku Tri Atmojo dan ibuku Tri Asrita. Jadilah ketiga
anaknya Triandoko, Triasani dan si bungsu Triandayani. Begitulah...”
“Wah, saingan dengan kak Laila kamu Tri... Membuat klan
TRI.” kata Dwi, usil. Di sebelah kak Laila berdehem mendengar namanya disebut
lagi. Tiga sekawan tertawa kecil.
“Yang penting nama kita artinya bagus-bagus. Namakan doa
dan harapan orang tua kita. Coba deh kalau nama kita Setan atau Garbage, walau
ke-English-an artinya Sampah... hihihi...Jadi Dwi, anakmu nanti kasih nama yang
cantik dan artinya bagus.” kata Tri sambil mengelus perut Dwi. “ Tiga bulan
yah?”.
Dwi menganggukkan kepala. “Kalau anakku nanti lahir aku
ingin namanya nanti ada Yuki... Bahasa Jepang sih, biar unik... tapi artinya apa ya? Kok lupa...”
“Apalah..apalah.. deh... Dwi yang penting bagus artinya.
Setuju aku dengan Tri..... Eh, Pak Johan muncul tuh dari ruangannya. Kalau
nggak salah kita mau rapat bidang ya? Aduh, gawat! Spaghetiku... Bagaimana ini?
Buat makan siang deh, eh, awas yah kalian berdua kalau pesan makanan untuk lunch...
Jatah kalian bantu aku masak dan makan
ini nih!” kata Eka kelabakan sambil menunjuk tas-tas ekstranya.
Serempak Dwi dan Tri meleletkan lidah, lalu beranjak dari
kubikel Eka.
Nah, bagaimana? Apa arti nama kalian?
MkS, 210116
#OneDayOnePost#HariKesembilan#Serial 1,2,3 : Nama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar