Kamis, 21 Januari 2016

SERIAL 1,2,3 : NAMA



Hari ini hari Senin. Pagi yang agak mendung, matahari malu-malu memancarkan sinarnya. Eka tergesa memasuki kantor, meletakkan tas dan dua tas ekstra di atas meja kerjanya. Ia melambai sambil tersenyum ke arah Dwi yang duduk berseberangan dan sibuk dengan laptopnya.

“Buru-buru amat, Eka. Masih setengah delapan. Masih sepi kantor, yang datang baru aku, kamu dan Pak Johan. Eh, Iman juga sudah datang paling pagi untuk bersih-bersih ruangan.“, kata Dwi mendongakkan kepalanya sejenak membalas senyuman lalu berkutat lagi ke laptopnya.

“Iya nih, iya... Aku kebelet. Mana belum absen lagi, nanti takut tertinggal apel pagi, Dwi...”

“Yaelah, apel pagi setengah jam lagi kalii.... Ke toilet berapa lama, sih?”, sahut Dwi dengan tatapan mata tetap ke laptop.

“Hadeeh... Nanti deh... Aku cerita... Absen dulu ya, Say...” Eka setengah berlari menuju ruang Kepegawaian untuk absen finger print.

Sampai apel pagi akan dimulai, Eka belum kembali dari ruang Kepegawaian. Dwi tidak ambil pusing. Ia hafal betul sifat temannya. Eka belum kembali pasti karena asyik ngobrol dengan Bu Asri dan Pak Rudi. Setelah apel nanti Dwi menduga bahwa kubikelnya akan dipenuhi celotehan Eka dan anggukan Tri.

“Mana Eka?”, tanya Tri setelah duduk di kubikelnya sendiri yang bersebelahan dengan Dwi.

“Nggak ketemu pas absen tadi, Tri?”

“Aku absen di depan dekat ruang Kepala TU.”

“Oh, biasa. Paling kecantol Bu Asri atau Pak Rudi atau dua-duanya di Kepegawaian.” Bel tanda apel pagi berdering, Dwi menggamit lengan Tri. “Yuk, apel dulu. Paling kita diajak diskusi seru sama Eka nanti setelah apel ini.”

Setelah apel, benar saja Eka menarik tangan Dwi dan Tri menuju kubikelnya. Matanya berbinar tanda ia tertarik pada sesuatu dan seperti tidak sabar ingin berbagi cerita dengan kedua sahabatnya. Ia menyingkirkan tas-tas di atas meja.

“Teman, ambil kursi kalian dulu deh... Biar enak kita diskusi. Penting ini, penting dan genting!”, ujar Eka dengan gaya berlebihan. “Aku bawa kabar menarik. Tentang gaji kita sebagai PNS eh ASN ya? Tahun 2016 ini kita akan terima gaji 14 loooh, bukan hanya gaji 13....Itu kata Bu Asri.”

“Hadeeh, Eka...Eka....Itu isu lama kalee. Ada tuh berserakan di internet. Ketik di bang Google ‘gaji asn 2016’, muncul dah.”, ujar Tri dengan gaya kalemnya. Dwi yang duduk disebelahnya menganggukkan kepala.

“Iyakah... Ya sudah, kalau begitu selancar masing-masing aja untuk lihat gaji tahun ini. Terus...terus... Tahu nggak nama asli kak Laila itu Laila Purnama Wati bukan Laila Kurniawan, aku tadi lihat di daftar gaji.” sambung Eka lagi masih dengan berapi-api.

“Eka!”, Dwi dan Tri setengah berteriak menyahut bersama. Tri menggelengkan kepala.

Dwi menundukkan kepala sambil memegang wajahnya. “Aduh, Eka..... Sejak kak Laila pindah juga kita sudah tahu. Kamu nggak lihat daftar absen apa?”. Eka melongo melihat tingkah teman-temannya.

“Ih, absen kita kan per lembar per nama, mana sempat aku lihat absen kak Laila.” balas Eka.

“Eh,eh,eh... Ada apa ini namaku disebut-sebut?”, suara kak Laila menyahut. Kubikel Kak Laila bersebelahan dengan Eka. Jadi semua pembicaraan tiga sekawan otomatis terdengar.

“Ng...Nggak ada apa-apa, Kak... Cuma Eka nih, lupa nama kakak yang asli.”, jawab Dwi.

“Ooohh... Eka..Eka...”, sahut kak Laila.

“Nah, itu... Menarik... Memang nggak masalah ya begitu?” Eka bersuara, lebih pelan.

“Tidak masalah deh... Toh cuma sebutan. Untuk keperluan resmi kak Laila tetap pakai nama asli. Lagi pula dua-dua nama yang dipakai kak Laila artinya bagus.”, kata Tri. “Ngomong-ngomong arti nama kalian apa? Ahhh ketebak deh... Eka.. Pasti karena kamu anak pertama kan? Dan Dwi, anak kedua?”

Eka mengacungkan jempol. “Eka memang karena aku anak Sulung, Cahaya Putri yah.. Artinya begitu itu... Mama dan papaku mengharapkan anak sulung mereka ‘bercahaya’ menerangi orang-orang sekitarnya.” Eka berkata sambil menggerakkan tangan layaknya berpuisi.

Dwi menggelengkan kepala. “Sori, Tri. Dugaanmu salah besar. Ibu dan Bapak memberi nama Dwi karena aku lahir tanggal dua. Kakakku saja yang lahir tanggal lima namanya Panca. Nah, Ambarwati artinya wanita berbau wangi berotak cemerlang. Kalau kamu, Tri?”

“Ini dia. Namaku ada Tri bukan juga aku anak ketiga, aku anak kedua loh.. Kakak dan adikku juga bernama Tri.”

Dwi dan Eka saling berpandangan. Lalu dengan wajah bertanya-tanya mereka memandang ke arah Tri.

“Iya...iya... Sebentar aku jelaskan nih. Kedua orang tuaku juga memakai nama Tri. ayahku Tri Atmojo dan ibuku Tri Asrita. Jadilah ketiga anaknya Triandoko, Triasani dan si bungsu Triandayani. Begitulah...”

“Wah, saingan dengan kak Laila kamu Tri... Membuat klan TRI.” kata Dwi, usil. Di sebelah kak Laila berdehem mendengar namanya disebut lagi. Tiga sekawan tertawa kecil.



“Yang penting nama kita artinya bagus-bagus. Namakan doa dan harapan orang tua kita. Coba deh kalau nama kita Setan atau Garbage, walau ke-English-an artinya Sampah... hihihi...Jadi Dwi, anakmu nanti kasih nama yang cantik dan artinya bagus.” kata Tri sambil mengelus perut Dwi. “ Tiga bulan yah?”.

Dwi menganggukkan kepala. “Kalau anakku nanti lahir aku ingin namanya nanti ada Yuki... Bahasa Jepang sih, biar unik... tapi artinya apa ya? Kok lupa...”

“Apalah..apalah.. deh... Dwi yang penting bagus artinya. Setuju aku dengan Tri..... Eh, Pak Johan muncul tuh dari ruangannya. Kalau nggak salah kita mau rapat bidang ya? Aduh, gawat! Spaghetiku... Bagaimana ini? Buat makan siang deh, eh, awas yah kalian berdua kalau pesan makanan untuk lunch... Jatah kalian bantu aku masak dan makan  ini nih!” kata Eka kelabakan sambil menunjuk tas-tas ekstranya.

Serempak Dwi dan Tri meleletkan lidah, lalu beranjak dari kubikel Eka.

Nah, bagaimana? Apa arti nama kalian?

MkS, 210116


#OneDayOnePost#HariKesembilan#Serial 1,2,3 : Nama
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar