Januari 2010
Chandra Mawardika
Panggil saja aku Ochan. Singkat dan unik, jadi familiar
untuk diingat. Umurku 15 tahun, namun aku sudah duduk di kelas XII. Karena 2
kali aku ikut kelas akselerasi di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.
Hari ini pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah Utama Jaya. Sekolah
khusus lelaki. Aku deg-degan setengah mati. Aku harus pindah ke sekolah yang
terletak di pedesaan pinggiran provinsi Jawa Tengah. Kedua orang tuaku
meninggal bersamaan di Bengkulu tempat kami tinggal dulu karena kecelakaan. Dan
aku anak semata wayang. Tanpa sanak saudara di Bengkulu maka jadilah aku ikut
Pakdhe Jayadi kakak ibuku untuk meneruskan sekolahku. Kebetulan Pakdhelah yang
memiliki sekolah ini. Dan itu juga yang menyebabkan aku punya hak istimewa
tidak tinggal di asrama tapi di rumah Pakdhe yang notabene juga masih dalam
lingkungan sekolah. Hak istimewa itu aku dapatkan bukan karena aku anak manja
yang tak bisa mandiri tapi karena aku PEREMPUAN.
Tak ada sekolah yang mau menerimaku karena kepindahan yang
dekat dengan Ujian Akhir Semester dan Ujian Nasional. Sekolahku yang dulu
keberatan tetap menerimaku. Mereka khawatir biaya sekolah tidak dapat terbayar
dan mengistimewakan aku berarti harus berhadapan dengan orang tua murid yang
lain(terutama orang tua murid yang memberikan uang sumbangan tertinggi). Jadi
inilah pilihan satu-satunya bersekolah di sekolah Pakdheku sendiri khusus
lelaki. Untuk itu aku harus menyamar sebagai lelaki. Rambut sebahuku rela
dipotong, suara nyaring diubah bass. Cara jalan feminin berubah gagah dengan
membusungkan dada. Sementara dadaku harus diikat agar rata dan baju yang
kupakai lebih besar dari ukuran sewajarnya.
Aku berpikir aku bisa menghadapi ini semua. Aku hanya
bersekolah disini sekitar 2-3 bulan. Setelah pengumuman kelulusan aku akan ke Jakarta.
Kuliah dan menetap di sana bersama Tante Ragil adik bungsu ayahku yang belum
menikah.
Andi Ikhsanuddin
Hari Senin yang membosankan. Ungkapan 'I Hate Monday' ada
benarnya juga sekarang batinku. Aku tak bersemangat mengikuti pelajaran Bahasa
Indonesia yang diampu Bu Liliana. Padahal biasanya aku menikmati pelajaran yang
diberikan guruku ini. Cara mengajarnya enak sekali penuh diskusi dan praktek,
entah itu pementasan mini di kelas atau pembacaan puisi. O,ya Ikhsannuddin
namaku tapi teman-teman biasa menyebutku Ichan. Asalku dari Gowa provinsi
Sulawesi Selatan. Sejak kelas X aku bersekolah di sini, "dikirim"
orang tuaku agar aku belajar mandiri. Saat aku bermalas-malasan. Tiba-tiba saja
pintu diketuk, Wakil Kepala Sekolah Bapak Yuda masuk ke kelas dengan membawa
(kupikir) murid baru. Aku menegakkan kepala. Rasa keingintahuanku membunuh rasa
malasku. Kelas riuh seketika dengan bisikan-bisikan seluruh murid. Walau isi
kelas hampir semua lelaki tapi kebiasaan berbisik-bisik tetap saja ada.
"Hemm...Ehem..Ehem... Mohon perhatiannya sebentar,
Anak-anak!" dehem Pak Yudha. "Yak! Sebentar saja." suaranya
meninggi. Suara riuh berhenti. Semua mata tertuju ke depan, kepada Pak Yudha
dan murid baru itu. "Terima kasih. Ini murid baru, dari Bengkulu. Silakan
Chandra, perkenalkan dirimu!"
Murid baru itu terlihat gugup. Dan menurutku murid baru itu
sedikit aneh. Badannya relatif lebih pendek dan kecil dibandingkan kami para
lelaki. Jalannya terlihat dibuat-buat. "Nama saya Chandra Mawardika.
Panggil saja Ochan." Ia berbicara sambil sebentar-sebentar menundukkan
kepala. "Mohon bantuannya , Teman-teman.", sambungnya hampir tak
terdengar.
" Begitu, Anak-anak. Bu Liliana, saya tinggal
dulu...", Pak Yudha meninggalkan kelas sambil melambaikan tangan ke arah
murid-murid.
"Baik, Pak
Yudha. Siapa ketua kelas di sini?", Bu Liliana bertanya sambil mengedarkan
pandangan ke seluruh kelas. Matanya terhenti di aku. "Ikhsan?" Aku
mengangkat tangan lalu mengangguk. Aku melirik ke sebelah kiriku. Ada bangku
kosong di situ. "Kamu bisa duduk disebelah Ikhsan. Dan Ikhsan mohon
bantuannya untuk mngenalkan sekolah kita pada Chandra." ujar Bu Liliana.
Aku mengangguk. Chandra atau Ochan duduk di sebelahku. "Kita teruskan
pelajaran, Anak-anak...".
" Mohon bantuannya..." bisik Ochan pelan.
"Panggil saya Ichan. Lucu juga, nama panggilan kita
hanya berbeda satu huruf." sahutku sambil tersenyum. "Pasti aku akan
membantu. Tenang saja, aku adalah guide terbaik.", sambungku lagi.
*****
(bersambung)
MkS,260116
#OneDayOnePost#HariKeduabelas
#OneDayOnePost#HariKeduabelas
1 komentar:
ditunggu kelanjutannya :)
Posting Komentar