Rabu, 27 Januari 2016

MALAIKAT KECILKU

Aku jatuh cinta. Saat pertama kami berjumpa di panti asuhan lima bulan yang lalu. Mata bolanya menggoda, senyumnya mempesona, ada lesung di kedua pipinya.

Hari ini aku kembali ke panti asuhan tersebut. Untuk bertemu kembali dengannya dan Bu Maryam, kepala panti asuhan. Bu Maryam menggandeng tangan mungilnya. Tertatih ia berjalan karena kedua kakinya membentuk huruf x.

"Mari silakan duduk, Bu Laras..." sambut Bu Maryam. "Ini dia Siti Fatima. Ima, ayo salam! Ingat dengan Bu Laras? Ima sudah pernah bertemu Bu Laras lho."

Ima menggeleng perlahan, namun senyum tak lepas dari wajahnya. Ia menyalamiku dan mencium tanganku.

"Maaf, ia belum mau bicara. Tapi ia mengerti jika diajak bicara. Iyakan, Ima?" ujar Bu Maryam lembut. Ima mengangguk.

"Aduh, Ima manis sekali ya..." Aku mencubit pelan pipinya. "Kenalkan, saya Mamah Laras... Ima mau memanggil saya Mamah?"

Senyum menghilang dari wajahnya. Ia menarik baju Bu Maryam, seakan minta perlindungan. Aku merasa bersalah melihat hal itu. Apakah Ima siap menerimaku? Tapi aku takkan menyerah untuk mengambil hatinya, aku terlanjur jatuh hati padanya.

"Tidak apa-apa, Nak.... Bu Laras ini baik hatinya."

Dia menatap Bu Maryam, mimiknya meminta penegasan bahwa aku tak akan menyakitinya. Bu Maryam mengangguk. "Betul, Ima. Bu Laras ini orang baik. Ayo, coba duduk di pangkuannya. Kamu pasti bisa merasakan ketulusan hatinya." Bu Laras mengajak Ima mendekat padaku. Kubuka dua tanganku untuk menerima Ima. Ia masih terlihat takut, matanya bergantian menatapku dan Bu Maryam.

"Oh, Ima.. aku menyayangimu. Aku pasti melindungimu dan mengobatimu!" seruku dalam hati.

Ima masih terlihat enggan.Ia bahkan berusaha menarik dirinya dan bersembunyi di balik tubuh Bu Maryam. Aku mengkode Bu Maryam, agar tidak memaksanya. Bu Maryam mengangguk. Ia memegang kedua lengan Ima.

"Baiklah, Ima.... Tidak apa-apa.... Kalau begitu kita kembali ke Ruang Belajar..... Ima dengan Bu Sri dulu yaa...Sebentar Bu Laras, saya antar Ima dulu." Bu Laras menggendong Ima pergi. Ima ragu-ragu melambaikan tangan ke arahku. Aku membalasnya disertai senyuman termanis yang kumiliki.

Tak lama kemudian Bu Maryam kembali. "Maaf, Bu Laras... sepertinya trauma Ima belum teratasi. Ia masih takut jika bertemu wanita dewasa apalagi yang tidak memakai kerudung, ah, maaf Bu..."

Aku menggeleng." Tidak apa-apa, Bu. Ini kesalahan saya. Saya lupa memakai kerudung. Nanti kalau saya kembali lagi, saya akan menggunakannya supaya memberi Ima rasa aman. Tapi saya bisa mengadopsi Ima? Terus terang, saya jatuh cinta padanya sejak kami pertama kali bertemu."

"Iya, saya percaya dengan Bu Laras dan Bapak Aryo. Apalagi Bu Laras psikolog anak, dan Bapak Aryo aktor terkenal, Insya Alloh bisa mengasuh Ima dengan baik."

"Terima kasih.... kebetulan saya praktek di rumah, dan membuka sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus bersama rekan-rekan saya. Semoga saya dan suami bisa mendidik Ima. O,ya ini berkas-berkas adopsi Ima. Tolong dilihat dan diperiksa, Bu Maryam. Siapa tahu ada yang harus saya lengkapi lagi." aku menyerahkan setumpuk berkas untuk mengadopsi Ima. Aku dan suami ingin mengadopsi Ima secara legal.

"Apakah Ibu sudah mengajukan permohonan ke Pengadilan Agama?" tanya Bu Maryam.

"Iya, Bu...Kami berdua sudah dinilai Hakim layak untuk mendapatkan hak mengadopsi Ima. Dan, ah, maaf, suami saya tidak bisa menemani sekarang. Ada pekerjaan di luar kota. Tapi untuk mengambil Ima nanti dia akan menjadwal ulang kegiatannya supaya bisa ikut ke sini."

"Ya, tentu saja... seperti saya bilang tadi. Saya percaya pada Bu Laras dan suami. Baiklah, saya akan baca berkas-berkas ini. Dan nanti saya kabari secepatnya setelah saya selesai."

"Baiklah Bu... Terima kasih sebelumnya."

"Saya yang berterima kasih. Orang terkenal seperti Bu Laras dan Bapak Aryo masih peduli dengan anak yang kurang beruntung. Memang disini kami sudah berusaha semampunya untuk mengobati Ima, namun belum menampakkan hasil." jelas Bu Maryam dengan wajah sedih. "Sebetulnya jika Ima seperti anak-anak yang lain, mungkin ia anak yang riang dan cerdas, Bu Laras."

Aku tersenyum lalu mengganggukkan kepala. "Tentu, Bu Maryam. Ima anak yang menyenangkan." Aku berdiri dan menyalami Bu Maryam, "Saya tunggu kabar baik dari Ibu."

Bu Maryam membalas salam dan memelukku.

                                                                            *****

(besambung)

MkS, 270116

#OneDayOnePost#HariKetigabelas

1 komentar:

cuap-cuap ratih mengatakan...

Di tunggu sambungannya ya..

Posting Komentar