Aku jatuh cinta. Saat pertama kami berjumpa di panti asuhan lima bulan yang lalu. Mata bolanya menggoda, senyumnya mempesona, ada lesung di kedua pipinya.
Hari ini aku kembali ke panti asuhan tersebut. Untuk bertemu kembali dengannya dan Bu Maryam, kepala panti asuhan. Bu Maryam menggandeng tangan mungilnya. Tertatih ia berjalan karena kedua kakinya membentuk huruf x.
"Mari silakan duduk, Bu Laras..." sambut Bu Maryam. "Ini dia Siti Fatima. Ima, ayo salam! Ingat dengan Bu Laras? Ima sudah pernah bertemu Bu Laras lho."
Ima menggeleng perlahan, namun senyum tak lepas dari wajahnya. Ia menyalamiku dan mencium tanganku.
"Maaf, ia belum mau bicara. Tapi ia mengerti jika diajak bicara. Iyakan, Ima?" ujar Bu Maryam lembut. Ima mengangguk.
"Aduh, Ima manis sekali ya..." Aku mencubit pelan pipinya. "Kenalkan, saya Mamah Laras... Ima mau memanggil saya Mamah?"
Senyum menghilang dari wajahnya. Ia menarik baju Bu Maryam, seakan minta perlindungan. Aku merasa bersalah melihat hal itu. Apakah Ima siap menerimaku? Tapi aku takkan menyerah untuk mengambil hatinya, aku terlanjur jatuh hati padanya.
"Tidak apa-apa, Nak.... Bu Laras ini baik hatinya."
Dia menatap Bu Maryam, mimiknya meminta penegasan bahwa aku tak akan menyakitinya. Bu Maryam mengangguk. "Betul, Ima. Bu Laras ini orang baik. Ayo, coba duduk di pangkuannya. Kamu pasti bisa merasakan ketulusan hatinya." Bu Laras mengajak Ima mendekat padaku. Kubuka dua tanganku untuk menerima Ima. Ia masih terlihat takut, matanya bergantian menatapku dan Bu Maryam.
"Oh, Ima.. aku menyayangimu. Aku pasti melindungimu dan mengobatimu!" seruku dalam hati.
Ima masih terlihat enggan.Ia bahkan berusaha menarik dirinya dan bersembunyi di balik tubuh Bu Maryam. Aku mengkode Bu Maryam, agar tidak memaksanya. Bu Maryam mengangguk. Ia memegang kedua lengan Ima.
"Baiklah, Ima.... Tidak apa-apa.... Kalau begitu kita kembali ke Ruang Belajar..... Ima dengan Bu Sri dulu yaa...Sebentar Bu Laras, saya antar Ima dulu." Bu Laras menggendong Ima pergi. Ima ragu-ragu melambaikan tangan ke arahku. Aku membalasnya disertai senyuman termanis yang kumiliki.
Tak lama kemudian Bu Maryam kembali. "Maaf, Bu Laras... sepertinya trauma Ima belum teratasi. Ia masih takut jika bertemu wanita dewasa apalagi yang tidak memakai kerudung, ah, maaf Bu..."
Aku menggeleng." Tidak apa-apa, Bu. Ini kesalahan saya. Saya lupa memakai kerudung. Nanti kalau saya kembali lagi, saya akan menggunakannya supaya memberi Ima rasa aman. Tapi saya bisa mengadopsi Ima? Terus terang, saya jatuh cinta padanya sejak kami pertama kali bertemu."
"Iya, saya percaya dengan Bu Laras dan Bapak Aryo. Apalagi Bu Laras psikolog anak, dan Bapak Aryo aktor terkenal, Insya Alloh bisa mengasuh Ima dengan baik."
"Terima kasih.... kebetulan saya praktek di rumah, dan membuka sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus bersama rekan-rekan saya. Semoga saya dan suami bisa mendidik Ima. O,ya ini berkas-berkas adopsi Ima. Tolong dilihat dan diperiksa, Bu Maryam. Siapa tahu ada yang harus saya lengkapi lagi." aku menyerahkan setumpuk berkas untuk mengadopsi Ima. Aku dan suami ingin mengadopsi Ima secara legal.
"Apakah Ibu sudah mengajukan permohonan ke Pengadilan Agama?" tanya Bu Maryam.
"Iya, Bu...Kami berdua sudah dinilai Hakim layak untuk mendapatkan hak mengadopsi Ima. Dan, ah, maaf, suami saya tidak bisa menemani sekarang. Ada pekerjaan di luar kota. Tapi untuk mengambil Ima nanti dia akan menjadwal ulang kegiatannya supaya bisa ikut ke sini."
"Ya, tentu saja... seperti saya bilang tadi. Saya percaya pada Bu Laras dan suami. Baiklah, saya akan baca berkas-berkas ini. Dan nanti saya kabari secepatnya setelah saya selesai."
"Baiklah Bu... Terima kasih sebelumnya."
"Saya yang berterima kasih. Orang terkenal seperti Bu Laras dan Bapak Aryo masih peduli dengan anak yang kurang beruntung. Memang disini kami sudah berusaha semampunya untuk mengobati Ima, namun belum menampakkan hasil." jelas Bu Maryam dengan wajah sedih. "Sebetulnya jika Ima seperti anak-anak yang lain, mungkin ia anak yang riang dan cerdas, Bu Laras."
Aku tersenyum lalu mengganggukkan kepala. "Tentu, Bu Maryam. Ima anak yang menyenangkan." Aku berdiri dan menyalami Bu Maryam, "Saya tunggu kabar baik dari Ibu."
Bu Maryam membalas salam dan memelukku.
*****
(besambung)
MkS, 270116
#OneDayOnePost#HariKetigabelas
FikSi
Rabu, 27 Januari 2016
Selasa, 26 Januari 2016
CATATAN KECIL
Januari 2010
Chandra Mawardika
Panggil saja aku Ochan. Singkat dan unik, jadi familiar
untuk diingat. Umurku 15 tahun, namun aku sudah duduk di kelas XII. Karena 2
kali aku ikut kelas akselerasi di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.
Hari ini pertama kali aku menginjakkan kaki di sekolah Utama Jaya. Sekolah
khusus lelaki. Aku deg-degan setengah mati. Aku harus pindah ke sekolah yang
terletak di pedesaan pinggiran provinsi Jawa Tengah. Kedua orang tuaku
meninggal bersamaan di Bengkulu tempat kami tinggal dulu karena kecelakaan. Dan
aku anak semata wayang. Tanpa sanak saudara di Bengkulu maka jadilah aku ikut
Pakdhe Jayadi kakak ibuku untuk meneruskan sekolahku. Kebetulan Pakdhelah yang
memiliki sekolah ini. Dan itu juga yang menyebabkan aku punya hak istimewa
tidak tinggal di asrama tapi di rumah Pakdhe yang notabene juga masih dalam
lingkungan sekolah. Hak istimewa itu aku dapatkan bukan karena aku anak manja
yang tak bisa mandiri tapi karena aku PEREMPUAN.
Tak ada sekolah yang mau menerimaku karena kepindahan yang
dekat dengan Ujian Akhir Semester dan Ujian Nasional. Sekolahku yang dulu
keberatan tetap menerimaku. Mereka khawatir biaya sekolah tidak dapat terbayar
dan mengistimewakan aku berarti harus berhadapan dengan orang tua murid yang
lain(terutama orang tua murid yang memberikan uang sumbangan tertinggi). Jadi
inilah pilihan satu-satunya bersekolah di sekolah Pakdheku sendiri khusus
lelaki. Untuk itu aku harus menyamar sebagai lelaki. Rambut sebahuku rela
dipotong, suara nyaring diubah bass. Cara jalan feminin berubah gagah dengan
membusungkan dada. Sementara dadaku harus diikat agar rata dan baju yang
kupakai lebih besar dari ukuran sewajarnya.
Aku berpikir aku bisa menghadapi ini semua. Aku hanya
bersekolah disini sekitar 2-3 bulan. Setelah pengumuman kelulusan aku akan ke Jakarta.
Kuliah dan menetap di sana bersama Tante Ragil adik bungsu ayahku yang belum
menikah.
Andi Ikhsanuddin
Hari Senin yang membosankan. Ungkapan 'I Hate Monday' ada
benarnya juga sekarang batinku. Aku tak bersemangat mengikuti pelajaran Bahasa
Indonesia yang diampu Bu Liliana. Padahal biasanya aku menikmati pelajaran yang
diberikan guruku ini. Cara mengajarnya enak sekali penuh diskusi dan praktek,
entah itu pementasan mini di kelas atau pembacaan puisi. O,ya Ikhsannuddin
namaku tapi teman-teman biasa menyebutku Ichan. Asalku dari Gowa provinsi
Sulawesi Selatan. Sejak kelas X aku bersekolah di sini, "dikirim"
orang tuaku agar aku belajar mandiri. Saat aku bermalas-malasan. Tiba-tiba saja
pintu diketuk, Wakil Kepala Sekolah Bapak Yuda masuk ke kelas dengan membawa
(kupikir) murid baru. Aku menegakkan kepala. Rasa keingintahuanku membunuh rasa
malasku. Kelas riuh seketika dengan bisikan-bisikan seluruh murid. Walau isi
kelas hampir semua lelaki tapi kebiasaan berbisik-bisik tetap saja ada.
"Hemm...Ehem..Ehem... Mohon perhatiannya sebentar,
Anak-anak!" dehem Pak Yudha. "Yak! Sebentar saja." suaranya
meninggi. Suara riuh berhenti. Semua mata tertuju ke depan, kepada Pak Yudha
dan murid baru itu. "Terima kasih. Ini murid baru, dari Bengkulu. Silakan
Chandra, perkenalkan dirimu!"
Murid baru itu terlihat gugup. Dan menurutku murid baru itu
sedikit aneh. Badannya relatif lebih pendek dan kecil dibandingkan kami para
lelaki. Jalannya terlihat dibuat-buat. "Nama saya Chandra Mawardika.
Panggil saja Ochan." Ia berbicara sambil sebentar-sebentar menundukkan
kepala. "Mohon bantuannya , Teman-teman.", sambungnya hampir tak
terdengar.
" Begitu, Anak-anak. Bu Liliana, saya tinggal
dulu...", Pak Yudha meninggalkan kelas sambil melambaikan tangan ke arah
murid-murid.
"Baik, Pak
Yudha. Siapa ketua kelas di sini?", Bu Liliana bertanya sambil mengedarkan
pandangan ke seluruh kelas. Matanya terhenti di aku. "Ikhsan?" Aku
mengangkat tangan lalu mengangguk. Aku melirik ke sebelah kiriku. Ada bangku
kosong di situ. "Kamu bisa duduk disebelah Ikhsan. Dan Ikhsan mohon
bantuannya untuk mngenalkan sekolah kita pada Chandra." ujar Bu Liliana.
Aku mengangguk. Chandra atau Ochan duduk di sebelahku. "Kita teruskan
pelajaran, Anak-anak...".
" Mohon bantuannya..." bisik Ochan pelan.
"Panggil saya Ichan. Lucu juga, nama panggilan kita
hanya berbeda satu huruf." sahutku sambil tersenyum. "Pasti aku akan
membantu. Tenang saja, aku adalah guide terbaik.", sambungku lagi.
*****
(bersambung)
MkS,260116
#OneDayOnePost#HariKeduabelas
#OneDayOnePost#HariKeduabelas
LENGKAP
Hujan menyapa tanah
ramah "sejukkah engkau"
Tanah tersenyum pada padi
"sudi engkau berbagi"
Padi memanggil angin
"ingin engkau memeluk"
Angin menengadah pada awan
"kawan engkau rindu"
Awan menggandeng hujan
"mari, kita mewarnai bumi"
Karena hujan mencintai tanah
karena tanah menyayangi padi
karena padi membutuhkan angin
karena angin mengasihi awan
karena awan memerlukan hujan
Bumi terasa lengkap.
MkS, 260116
#OneDayOnePost#HariKesebelas
ramah "sejukkah engkau"
Tanah tersenyum pada padi
"sudi engkau berbagi"
Padi memanggil angin
"ingin engkau memeluk"
Angin menengadah pada awan
"kawan engkau rindu"
Awan menggandeng hujan
"mari, kita mewarnai bumi"
Karena hujan mencintai tanah
karena tanah menyayangi padi
karena padi membutuhkan angin
karena angin mengasihi awan
karena awan memerlukan hujan
Bumi terasa lengkap.
MkS, 260116
#OneDayOnePost#HariKesebelas
SATU JAM
Rindang melangkahkan kakinya menuju sebuah kafe terkenal yang menjual kopi di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Hari ini dia harus berangkat ke Jakarta. Ia melirik jam tangannya. Masih ada waktu untuk sekedar menikmati segelas kopi panas dan seiris brownis.
Baru saja ia memasuki kafe , seseorang yang tak ia kenal melambaikan tangan. Rindang menunjuk dirinya untuk meyakinkan bahwa dialah yang dipanggil. Orang itu mengangguk. Rindang menghampirinya dan duduk berseberangan dengan orang itu. Hatinya masih belum yakin, jarang sekali ada orang tak dikenal mengajak minum kopi. Di atas meja terhidang dua gelas kopi latte.
"Maaf, tapi tadi Anda mau membeli kopi kan?" ujar orang itu dengan senyum ramahnya seraya mendorong gelas kopi satu lagi ke depan Rindang, tepat setelah Rindang duduk dihadapannya.
"Iya, benar..." Rindang menganggukkan kepalanya.
"Ini tadi kebetulan ada promo, beli satu gratis satu. Saya hanya sanggup menghabiskan satu gelas. Sayang yang satu gelas lagi."
"Oh." jawab Rindang pendek. Wajahnya tampak ragu, antara ingin menerima kopi tersebut atau tidak.
"Tenang, saya tidak menaburkan sianida.." Ia tertawa kecil. "Toh kamu bukan anak konglomerat yang akan mewarisi sebuah perusahaan kan? Atau...."
Rindang cepat-cepat menggeleng. " Tapi kata mamaku, dilarang mengambil makanan dan minuman yang diberi orang asing..."
Orang itu menyodorkan tangannya. "Genta. Nama saya Genta Ardianto."
Rindang menyambutnya dengan senyum kecil. "Rindang Septarini. Cukup panggil Rindang."
"Jadi, kita sudah kenal sekarang. Silakan...."
Rindang tertawa. "Oh, baiklah. Terimakasih, Genta.. Tapi tunggu sebentar, saya akan melengkapi kopi kita ini. Suka brownis?"
Genta mengacungkan jempolnya. Rindang pergi membeli dua buah brownis lalu membawanya kembali ke meja.
Berdua mereka meminum kopi, menyesap kopi lamat-lamat menikmati rasa dan aroma yang ada.
"Penikmat kopi rupanya. Ah, perjalanan kali ini jadi tidak membosankan. Bertemu orang dengan hobi sama terasa menyenangkan." ujar Genta.
"Iya, betul juga. Hmmm... perjalanan kemana, Genta?"
"Ke Jakarta. Kira-kira tiga jam lagi saya take off. Kamu bagaimana, Rindang?"
"Hei... sama... Saya juga menuju Jakarta ini. Tapi, saya satu jam ke depan harus masuk pesawat. Kenapa berangkat ke Jakarta?"
"Saya? Biasa saya ini 'orang suruhan'. Pekerjaan, Rindang. Tapi saya terus berdoa semoga ini pekerjaan terakhir saya. Selepas pekerjaan ini saya akan ke Suriah atau Iran, jadi relawan di sana."
"Iya, saya juga 'orang suruhan'. Ini tugas dari kantor harus ke Jakarta. Lima hari, Genta. Padahal saya sudah berencana menghadiri reuni SMA tiga hari dari sekarang." Rindang terlihat agak kesal. Genta menertawakan ekspresi wajah Rindang.
"Tahu tidak Genta, saya ini paling tidak suka naik pesawat terbang. Terasa dekat dengan kematian. Saya percaya perlindungan Tuhan, sih. Tapi itu.. rasanya mengganggu. Cukup aneh, tidak menurutmu?"
"Kalau kamu percaya Tuhan, saya pikir itu tidak aneh. Tapi, apakah kamu juga percaya adanya karma, Rindang? Karena saya tidak percaya. "
"Dalam keimanan saya, setiap perbuatan yang dilakukan manusia pasti ada konsekuensinya. Entah itu seperti karma atau lainnya... Intinya saya percaya karma." ujar Rindang serius.
"Kamu menarik ya, Rindang. Jarang ada orang bisa berbicara akrab dan serius begini saat pertemuan pertama."
" Tergantung yang diajak bicara, dong Genta." sahut Rindang ringan. Lalu mereka berbincang-bincang hal lainnya, gosip artis, berita terkini sampai falsafah hidup. Pembicaraan mereka terhenti ketika terdengar pemberitahuan bahwa Rindang harus sudah memasuki pesawatnya yang menuju Jakarta.
"Sampai jumpa lagi, Rindang. Jika ada waktu dan umur." ujar Genta tersenyum. "Senang bertemu denganmu."
"Baiklah, Genta. Sampai jumpa lagi. Sama, menyenangkan bisa berkenalan dengan kamu." Mereka berjabat tangan.
*****
Rinda merebahkan dirinya ke atas spring bed sejenak setelah sampai di hotel tempatnya menginap di Jakarta. Penat ditubuhnya sedikit berkurang akibat perjalanan dari Makassar. Ia meraih remote lalu menyalakan televisi.
Alangkah terkejutnya Rindang mendengar berita terkini yang ditayangkan up to date setiap satu jam itu.
"Tersangka pembunuhan Menteri Luar Negeri berhasil ditangkap berkat kesigapan aparat kepolisian dan petugas Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kini tersangka berinisial GA diperiksa secara intensif..........."
Mata Rindang hampir melompat keluar melihat tersangka yang ditutup mukanya menggunakan kain sarung memakai baju dan celana yang sama persis dengan Genta. Teman barunya berbicara selama satu jam di kafe tadi. Ia tak percaya. Genta begitu hangat dan bersahabat, tidak ada 'bayangan' sedikit pun ia dapat membunuh seseorang.
MkS, 260116
#OneDayOnePost#HariKesepuluh
Baru saja ia memasuki kafe , seseorang yang tak ia kenal melambaikan tangan. Rindang menunjuk dirinya untuk meyakinkan bahwa dialah yang dipanggil. Orang itu mengangguk. Rindang menghampirinya dan duduk berseberangan dengan orang itu. Hatinya masih belum yakin, jarang sekali ada orang tak dikenal mengajak minum kopi. Di atas meja terhidang dua gelas kopi latte.
"Maaf, tapi tadi Anda mau membeli kopi kan?" ujar orang itu dengan senyum ramahnya seraya mendorong gelas kopi satu lagi ke depan Rindang, tepat setelah Rindang duduk dihadapannya.
"Iya, benar..." Rindang menganggukkan kepalanya.
"Ini tadi kebetulan ada promo, beli satu gratis satu. Saya hanya sanggup menghabiskan satu gelas. Sayang yang satu gelas lagi."
"Oh." jawab Rindang pendek. Wajahnya tampak ragu, antara ingin menerima kopi tersebut atau tidak.
"Tenang, saya tidak menaburkan sianida.." Ia tertawa kecil. "Toh kamu bukan anak konglomerat yang akan mewarisi sebuah perusahaan kan? Atau...."
Rindang cepat-cepat menggeleng. " Tapi kata mamaku, dilarang mengambil makanan dan minuman yang diberi orang asing..."
Orang itu menyodorkan tangannya. "Genta. Nama saya Genta Ardianto."
Rindang menyambutnya dengan senyum kecil. "Rindang Septarini. Cukup panggil Rindang."
"Jadi, kita sudah kenal sekarang. Silakan...."
Rindang tertawa. "Oh, baiklah. Terimakasih, Genta.. Tapi tunggu sebentar, saya akan melengkapi kopi kita ini. Suka brownis?"
Genta mengacungkan jempolnya. Rindang pergi membeli dua buah brownis lalu membawanya kembali ke meja.
Berdua mereka meminum kopi, menyesap kopi lamat-lamat menikmati rasa dan aroma yang ada.
"Penikmat kopi rupanya. Ah, perjalanan kali ini jadi tidak membosankan. Bertemu orang dengan hobi sama terasa menyenangkan." ujar Genta.
"Iya, betul juga. Hmmm... perjalanan kemana, Genta?"
"Ke Jakarta. Kira-kira tiga jam lagi saya take off. Kamu bagaimana, Rindang?"
"Hei... sama... Saya juga menuju Jakarta ini. Tapi, saya satu jam ke depan harus masuk pesawat. Kenapa berangkat ke Jakarta?"
"Saya? Biasa saya ini 'orang suruhan'. Pekerjaan, Rindang. Tapi saya terus berdoa semoga ini pekerjaan terakhir saya. Selepas pekerjaan ini saya akan ke Suriah atau Iran, jadi relawan di sana."
"Iya, saya juga 'orang suruhan'. Ini tugas dari kantor harus ke Jakarta. Lima hari, Genta. Padahal saya sudah berencana menghadiri reuni SMA tiga hari dari sekarang." Rindang terlihat agak kesal. Genta menertawakan ekspresi wajah Rindang.
"Tahu tidak Genta, saya ini paling tidak suka naik pesawat terbang. Terasa dekat dengan kematian. Saya percaya perlindungan Tuhan, sih. Tapi itu.. rasanya mengganggu. Cukup aneh, tidak menurutmu?"
"Kalau kamu percaya Tuhan, saya pikir itu tidak aneh. Tapi, apakah kamu juga percaya adanya karma, Rindang? Karena saya tidak percaya. "
"Dalam keimanan saya, setiap perbuatan yang dilakukan manusia pasti ada konsekuensinya. Entah itu seperti karma atau lainnya... Intinya saya percaya karma." ujar Rindang serius.
"Kamu menarik ya, Rindang. Jarang ada orang bisa berbicara akrab dan serius begini saat pertemuan pertama."
" Tergantung yang diajak bicara, dong Genta." sahut Rindang ringan. Lalu mereka berbincang-bincang hal lainnya, gosip artis, berita terkini sampai falsafah hidup. Pembicaraan mereka terhenti ketika terdengar pemberitahuan bahwa Rindang harus sudah memasuki pesawatnya yang menuju Jakarta.
"Sampai jumpa lagi, Rindang. Jika ada waktu dan umur." ujar Genta tersenyum. "Senang bertemu denganmu."
"Baiklah, Genta. Sampai jumpa lagi. Sama, menyenangkan bisa berkenalan dengan kamu." Mereka berjabat tangan.
*****
Rinda merebahkan dirinya ke atas spring bed sejenak setelah sampai di hotel tempatnya menginap di Jakarta. Penat ditubuhnya sedikit berkurang akibat perjalanan dari Makassar. Ia meraih remote lalu menyalakan televisi.
Alangkah terkejutnya Rindang mendengar berita terkini yang ditayangkan up to date setiap satu jam itu.
"Tersangka pembunuhan Menteri Luar Negeri berhasil ditangkap berkat kesigapan aparat kepolisian dan petugas Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kini tersangka berinisial GA diperiksa secara intensif..........."
Mata Rindang hampir melompat keluar melihat tersangka yang ditutup mukanya menggunakan kain sarung memakai baju dan celana yang sama persis dengan Genta. Teman barunya berbicara selama satu jam di kafe tadi. Ia tak percaya. Genta begitu hangat dan bersahabat, tidak ada 'bayangan' sedikit pun ia dapat membunuh seseorang.
MkS, 260116
#OneDayOnePost#HariKesepuluh
Kamis, 21 Januari 2016
SERIAL 1,2,3 : NAMA
Hari ini hari Senin. Pagi yang agak mendung, matahari
malu-malu memancarkan sinarnya. Eka tergesa memasuki kantor, meletakkan tas dan
dua tas ekstra di atas meja kerjanya. Ia melambai sambil tersenyum ke arah Dwi
yang duduk berseberangan dan sibuk dengan laptopnya.
“Buru-buru amat, Eka. Masih setengah delapan. Masih sepi
kantor, yang datang baru aku, kamu dan Pak Johan. Eh, Iman juga sudah datang
paling pagi untuk bersih-bersih ruangan.“, kata Dwi mendongakkan kepalanya
sejenak membalas senyuman lalu berkutat lagi ke laptopnya.
“Iya nih, iya... Aku kebelet. Mana belum absen lagi, nanti
takut tertinggal apel pagi, Dwi...”
“Yaelah, apel pagi setengah jam lagi kalii.... Ke toilet
berapa lama, sih?”, sahut Dwi dengan tatapan mata tetap ke laptop.
“Hadeeh... Nanti deh... Aku cerita... Absen dulu ya,
Say...” Eka setengah berlari menuju ruang Kepegawaian untuk absen finger
print.
Sampai apel pagi akan dimulai, Eka belum kembali dari
ruang Kepegawaian. Dwi tidak ambil pusing. Ia hafal betul sifat temannya. Eka
belum kembali pasti karena asyik ngobrol dengan Bu Asri dan Pak Rudi. Setelah
apel nanti Dwi menduga bahwa kubikelnya akan dipenuhi celotehan Eka dan anggukan Tri.
“Mana Eka?”, tanya Tri setelah duduk di kubikelnya sendiri
yang bersebelahan dengan Dwi.
“Nggak ketemu pas absen tadi, Tri?”
“Aku absen di depan dekat ruang Kepala TU.”
“Oh, biasa. Paling kecantol Bu Asri atau Pak Rudi atau
dua-duanya di Kepegawaian.” Bel tanda apel pagi berdering, Dwi menggamit lengan
Tri. “Yuk, apel dulu. Paling kita diajak diskusi seru sama Eka nanti setelah
apel ini.”
Setelah apel, benar saja Eka menarik tangan Dwi dan
Tri menuju kubikelnya. Matanya berbinar tanda ia tertarik pada sesuatu dan
seperti tidak sabar ingin berbagi cerita dengan kedua sahabatnya. Ia
menyingkirkan tas-tas di atas meja.
“Teman, ambil kursi kalian dulu deh... Biar enak kita
diskusi. Penting ini, penting dan genting!”, ujar Eka dengan gaya berlebihan.
“Aku bawa kabar menarik. Tentang gaji kita sebagai PNS eh ASN ya? Tahun 2016
ini kita akan terima gaji 14 loooh, bukan hanya gaji 13....Itu kata Bu Asri.”
“Hadeeh, Eka...Eka....Itu isu lama kalee. Ada tuh
berserakan di internet. Ketik di bang Google ‘gaji asn 2016’, muncul dah.”,
ujar Tri dengan gaya kalemnya. Dwi yang duduk disebelahnya menganggukkan
kepala.
“Iyakah... Ya sudah, kalau begitu selancar masing-masing
aja untuk lihat gaji tahun ini. Terus...terus... Tahu nggak nama asli kak Laila
itu Laila Purnama Wati bukan Laila Kurniawan, aku tadi lihat di daftar gaji.”
sambung Eka lagi masih dengan berapi-api.
“Eka!”, Dwi dan Tri setengah berteriak menyahut bersama.
Tri menggelengkan kepala.
Dwi menundukkan kepala sambil memegang wajahnya. “Aduh,
Eka..... Sejak kak Laila pindah juga kita sudah tahu. Kamu nggak lihat daftar
absen apa?”. Eka melongo melihat tingkah teman-temannya.
“Ih, absen kita kan per lembar per nama, mana sempat aku
lihat absen kak Laila.” balas Eka.
“Eh,eh,eh... Ada apa ini namaku disebut-sebut?”, suara kak
Laila menyahut. Kubikel Kak Laila bersebelahan dengan Eka. Jadi semua
pembicaraan tiga sekawan otomatis terdengar.
“Ng...Nggak ada apa-apa, Kak... Cuma Eka nih, lupa nama
kakak yang asli.”, jawab Dwi.
“Ooohh... Eka..Eka...”, sahut kak Laila.
“Nah, itu... Menarik... Memang nggak masalah ya begitu?”
Eka bersuara, lebih pelan.
“Tidak masalah deh... Toh cuma sebutan. Untuk keperluan
resmi kak Laila tetap pakai nama asli. Lagi pula dua-dua nama yang dipakai kak
Laila artinya bagus.”, kata Tri. “Ngomong-ngomong arti nama kalian apa? Ahhh
ketebak deh... Eka.. Pasti karena kamu anak pertama kan? Dan Dwi, anak kedua?”
Eka mengacungkan jempol. “Eka memang karena aku anak
Sulung, Cahaya Putri yah.. Artinya begitu itu... Mama dan papaku mengharapkan
anak sulung mereka ‘bercahaya’ menerangi orang-orang sekitarnya.” Eka berkata
sambil menggerakkan tangan layaknya berpuisi.
Dwi menggelengkan kepala. “Sori, Tri. Dugaanmu salah
besar. Ibu dan Bapak memberi nama Dwi karena aku lahir tanggal dua. Kakakku
saja yang lahir tanggal lima namanya Panca. Nah, Ambarwati artinya wanita
berbau wangi berotak cemerlang. Kalau kamu, Tri?”
“Ini dia. Namaku ada Tri bukan juga aku anak ketiga, aku
anak kedua loh.. Kakak dan adikku juga bernama Tri.”
Dwi dan Eka saling berpandangan. Lalu dengan wajah bertanya-tanya mereka memandang ke arah Tri.
Dwi dan Eka saling berpandangan. Lalu dengan wajah bertanya-tanya mereka memandang ke arah Tri.
“Iya...iya... Sebentar aku jelaskan nih. Kedua orang tuaku
juga memakai nama Tri. ayahku Tri Atmojo dan ibuku Tri Asrita. Jadilah ketiga
anaknya Triandoko, Triasani dan si bungsu Triandayani. Begitulah...”
“Wah, saingan dengan kak Laila kamu Tri... Membuat klan
TRI.” kata Dwi, usil. Di sebelah kak Laila berdehem mendengar namanya disebut
lagi. Tiga sekawan tertawa kecil.
“Yang penting nama kita artinya bagus-bagus. Namakan doa
dan harapan orang tua kita. Coba deh kalau nama kita Setan atau Garbage, walau
ke-English-an artinya Sampah... hihihi...Jadi Dwi, anakmu nanti kasih nama yang
cantik dan artinya bagus.” kata Tri sambil mengelus perut Dwi. “ Tiga bulan
yah?”.
Dwi menganggukkan kepala. “Kalau anakku nanti lahir aku
ingin namanya nanti ada Yuki... Bahasa Jepang sih, biar unik... tapi artinya apa ya? Kok lupa...”
“Apalah..apalah.. deh... Dwi yang penting bagus artinya.
Setuju aku dengan Tri..... Eh, Pak Johan muncul tuh dari ruangannya. Kalau
nggak salah kita mau rapat bidang ya? Aduh, gawat! Spaghetiku... Bagaimana ini?
Buat makan siang deh, eh, awas yah kalian berdua kalau pesan makanan untuk lunch...
Jatah kalian bantu aku masak dan makan
ini nih!” kata Eka kelabakan sambil menunjuk tas-tas ekstranya.
Serempak Dwi dan Tri meleletkan lidah, lalu beranjak dari
kubikel Eka.
Nah, bagaimana? Apa arti nama kalian?
MkS, 210116
#OneDayOnePost#HariKesembilan#Serial 1,2,3 : Nama
Rabu, 20 Januari 2016
SERIAL 1,2,3 : PERKENALAN
Cerita ini fiktif, kesamaan nama tokoh dan tempat adalah kebetulan semata karena semua yang berada dalam cerita murni hasil rekayasa pikiran penulis.
TOKOH UTAMA
1. EKA CAHAYA PUTRI (EKA) Badan paling lebar, suara paling besar, umur paling tua (beda 2 bulan dari Tri). Pernah menikah 2 kali. Baru dengan suami kedua dikaruniai 2 buah hati. Si Sulung berumur 6 tahun dan si Bungsu berumur 6 bulan. Paling ember dan kepo karena itu sering menjadi sumber berita hangat (seputar kantor), namun pelupa. Suka memasak dan mencoba resep-resep baru.
2. DWI AMBARSARI (DWI) Bertubuh mungil, porsi badan seimbang dengan tinggi, suara nyaring setengah dibanding Eka. Baru menikah 6 bulan, sedang mengandung anak pertama (kehamilan berusia 3 bulan). Pintar dan jago menulis laporan. Suka menyanyi di kamar (mandi) sendiri. Tipe serius dan agak-agak workaholic.
3. TRIASANI FITRI (TRI) Badan paling tinggi diantara keduanya dan juga paling kurus, suara lemah lembut seperti putri keraton. Sudah menikah 3 tahun namun belum punya seorang anak. Sedikit pendiam. Memori otaknya super sekali (seperti kata Mario Teguh), mengambil sudut pandang selalu yang baik-baik saja, namun terkadang telat berpikir karena supernya (banyak hal lain tersimpan di otaknya) Ketiganya kebetulan bekerja pada kantor yang sama. Sebuah Laboratorium Mikrobiologi pada suatu Instansi Pemerintah di ibukota Provinsi K, Indonesia.
TOKOH PENDUKUNG
1. BAPAK JOHAN GINTING Kepala Bidang Lab. Mikrobiologi alias atasan langsung ketiga tokoh utama. Pembawaannya humoris dan humanis(suka yang manis-manis : teh, kue apem, pukis, Hello Kitty...Hah?!?). Beranak empat, paling kecil dua kembar laki-laki masih kelas VIII, si Tengah perempuan kelas X dan yang paling besar kuliah Kedokteran semester IV.
2. IBU SARASWATI Super senior di Lab. Mikrobiologi. Lima tahun lagi pensiun. Keibuan sekali dan pribadi yang hangat. Sering jadi rujukan tiga sekawan dalam mengarungi kerasnya kehidupan kantor (halah!). Punya anak satu dan cucu 2.
3. KAK MARLIAH AMIN Ibu dua orang anak. Umurnya kira-kira lebih tua 10 tahun dari tiga sekawan. Pribadi biasa-biasa saja (biasa gonta-ganti mobil dan hand phone). Suami seorang pengusaha restoran. Sering ribut jika kehabisan diskon besar-besaran di Mall ternama.
4. MISTER PARK Nama aslinya Park So Hyun Adiguna. Ayah orang Jawa Timur, ibu asli orang Korea. PNS baru dua tahun. Masih lajang. Dan pasrah sering jadi ‘suruhan’ atau bahan ledekan para senior. Memohon-mohon untuk dipanggil dengan sebutan ADI (biar lebih terasa Indonesia dan sesuai dengan logat ‘medhok’ Jawa Timur jika bicara) namun tidak dihiraukan.
5. BAPAK SANTOSO Orang kedua tertua setelah ibu Saraswati. Perokok berat dan gampang bersahabat dengan siapa saja. Paling suka presentasi (apa saja, mulai ilmu yang berguna sampai hal remeh-temeh), jadi sering didaulat menjadi MC acara resmi kantor atau minimal pembaca doa saat apel pagi. Bapak dua orang perempuan ABG (12 dan 14 tahun).
6. KAK LAILA KURNIAWAN Nama aslinya Laila Purnama Wati. Tapi lebih suka dikenal dengan nama di atas karena lebih mudah diingat, lagipula Kurniawan adalah nama suaminya. Kak Laila merupakan pegawai pindahan dari provinsi L. Anaknya 5 orang semua lelaki. “Calon pembawa klan Kurniawan. Hohohoho” itu kata Kak Laila membanggakan nama suaminya.
Masih banyak tokoh pendukung dalam serial ini (rencananya). Mereka akan dikenalkan satu persatu ketika muncul dalam cerita. Demikian adanya perkenalan tokoh serial ini. Atas perhatian dan kerja sama yang baik diucapkan terima kasih.
Penulis MkS, 200116
#OneDayOnePost#HariKedelapan#Serial 1,2,3 : Perkenalan
TOKOH UTAMA
1. EKA CAHAYA PUTRI (EKA) Badan paling lebar, suara paling besar, umur paling tua (beda 2 bulan dari Tri). Pernah menikah 2 kali. Baru dengan suami kedua dikaruniai 2 buah hati. Si Sulung berumur 6 tahun dan si Bungsu berumur 6 bulan. Paling ember dan kepo karena itu sering menjadi sumber berita hangat (seputar kantor), namun pelupa. Suka memasak dan mencoba resep-resep baru.
2. DWI AMBARSARI (DWI) Bertubuh mungil, porsi badan seimbang dengan tinggi, suara nyaring setengah dibanding Eka. Baru menikah 6 bulan, sedang mengandung anak pertama (kehamilan berusia 3 bulan). Pintar dan jago menulis laporan. Suka menyanyi di kamar (mandi) sendiri. Tipe serius dan agak-agak workaholic.
3. TRIASANI FITRI (TRI) Badan paling tinggi diantara keduanya dan juga paling kurus, suara lemah lembut seperti putri keraton. Sudah menikah 3 tahun namun belum punya seorang anak. Sedikit pendiam. Memori otaknya super sekali (seperti kata Mario Teguh), mengambil sudut pandang selalu yang baik-baik saja, namun terkadang telat berpikir karena supernya (banyak hal lain tersimpan di otaknya) Ketiganya kebetulan bekerja pada kantor yang sama. Sebuah Laboratorium Mikrobiologi pada suatu Instansi Pemerintah di ibukota Provinsi K, Indonesia.
TOKOH PENDUKUNG
1. BAPAK JOHAN GINTING Kepala Bidang Lab. Mikrobiologi alias atasan langsung ketiga tokoh utama. Pembawaannya humoris dan humanis(suka yang manis-manis : teh, kue apem, pukis, Hello Kitty...Hah?!?). Beranak empat, paling kecil dua kembar laki-laki masih kelas VIII, si Tengah perempuan kelas X dan yang paling besar kuliah Kedokteran semester IV.
2. IBU SARASWATI Super senior di Lab. Mikrobiologi. Lima tahun lagi pensiun. Keibuan sekali dan pribadi yang hangat. Sering jadi rujukan tiga sekawan dalam mengarungi kerasnya kehidupan kantor (halah!). Punya anak satu dan cucu 2.
3. KAK MARLIAH AMIN Ibu dua orang anak. Umurnya kira-kira lebih tua 10 tahun dari tiga sekawan. Pribadi biasa-biasa saja (biasa gonta-ganti mobil dan hand phone). Suami seorang pengusaha restoran. Sering ribut jika kehabisan diskon besar-besaran di Mall ternama.
4. MISTER PARK Nama aslinya Park So Hyun Adiguna. Ayah orang Jawa Timur, ibu asli orang Korea. PNS baru dua tahun. Masih lajang. Dan pasrah sering jadi ‘suruhan’ atau bahan ledekan para senior. Memohon-mohon untuk dipanggil dengan sebutan ADI (biar lebih terasa Indonesia dan sesuai dengan logat ‘medhok’ Jawa Timur jika bicara) namun tidak dihiraukan.
5. BAPAK SANTOSO Orang kedua tertua setelah ibu Saraswati. Perokok berat dan gampang bersahabat dengan siapa saja. Paling suka presentasi (apa saja, mulai ilmu yang berguna sampai hal remeh-temeh), jadi sering didaulat menjadi MC acara resmi kantor atau minimal pembaca doa saat apel pagi. Bapak dua orang perempuan ABG (12 dan 14 tahun).
6. KAK LAILA KURNIAWAN Nama aslinya Laila Purnama Wati. Tapi lebih suka dikenal dengan nama di atas karena lebih mudah diingat, lagipula Kurniawan adalah nama suaminya. Kak Laila merupakan pegawai pindahan dari provinsi L. Anaknya 5 orang semua lelaki. “Calon pembawa klan Kurniawan. Hohohoho” itu kata Kak Laila membanggakan nama suaminya.
Masih banyak tokoh pendukung dalam serial ini (rencananya). Mereka akan dikenalkan satu persatu ketika muncul dalam cerita. Demikian adanya perkenalan tokoh serial ini. Atas perhatian dan kerja sama yang baik diucapkan terima kasih.
Penulis MkS, 200116
#OneDayOnePost#HariKedelapan#Serial 1,2,3 : Perkenalan
Selasa, 19 Januari 2016
KURSI
Silakan diduduki
nanti aku temani
sambil menyeruput kopi
kita bicara berapi-api
menemukan segala solusi
daripada duduk manis lalu bermimpi
ceritanya membahas hal-hal terkini
tapi ternyata hanyalah sepi......
MkS, 190116
#OneDayOnePost#HariKetujuh#KURSI
nanti aku temani
sambil menyeruput kopi
kita bicara berapi-api
menemukan segala solusi
daripada duduk manis lalu bermimpi
ceritanya membahas hal-hal terkini
tapi ternyata hanyalah sepi......
MkS, 190116
#OneDayOnePost#HariKetujuh#KURSI