kita memikirkan pagi
ketika senyum mentari setengah berseri
bergaung : apakah kita berarti atau hanya menunggu mati?
berlalu masa dalam sunyi
perlahan kita saling pandang
lalu kidung berkumandang
mengantar kita pada pulang petang
tanpa jawaban datang
kita mematut sendiri
hingga malam menjadi iri
penjelajahan tentang diri tak bisa berhenti
kerinduan itu menjadi-jadi
angin utara mengudara
dan kita masih saja bergumam
"arti kemanusiaan harganya berapa?"
sambil diam-diam berdoa
"semoga damai tercipta" (berulang kali)
sambil mencengkeram leher Rohingya
MkS, 190615
Tidak ada komentar:
Posting Komentar