Senin, 22 Juni 2015
TAK BISA
tak bisa
aksara tidak memberi ruang untuk bicara
tak bisa
aku membeku di sana tanpa udara
tak bisa
kau juga tak membantu, ragamu semu
tak bisa, tak bisa
ini hasil serupa alpa saja
tiada apa-apa
hanya ulangan kata........
MkS, 220615
Minggu, 21 Juni 2015
PETASAN
petasan dihatiku
petasan dihatimu
menunggu api
agar nyaring bersuara
bersahut-sahutan
petasan dihatiku untuk mereka
agar kepedulian ditoreh pada wajah-wajah harapan
hingga ulas senyuman menjadi penawar
kehidupan tak bersenyawa kebahagiaan
ya! sedikit saja, ledak!
bagaimana petasan dihatimu?
untuk siapa kau tuju?
MkS, 210615
petasan dihatimu
menunggu api
agar nyaring bersuara
bersahut-sahutan
petasan dihatiku untuk mereka
agar kepedulian ditoreh pada wajah-wajah harapan
hingga ulas senyuman menjadi penawar
kehidupan tak bersenyawa kebahagiaan
ya! sedikit saja, ledak!
bagaimana petasan dihatimu?
untuk siapa kau tuju?
MkS, 210615
Sabtu, 20 Juni 2015
MAKNA KEHIDUPAN
dalam jiwa-jiwa bersayap kebebasan
aku menari dalam kebahagiaan
walau sederhana : keikhlasan
dalam kaki-kaki pembawa halilintar
aku berlari penuh semangat bergetar
walau tak mudah : ketegaran
dalam tangan-tangan pemberi kasih
aku mendekap kerinduan dengan fasih
akhirnya kutemukan : makna kehidupan
MkS, 200615
aku menari dalam kebahagiaan
walau sederhana : keikhlasan
dalam kaki-kaki pembawa halilintar
aku berlari penuh semangat bergetar
walau tak mudah : ketegaran
dalam tangan-tangan pemberi kasih
aku mendekap kerinduan dengan fasih
akhirnya kutemukan : makna kehidupan
MkS, 200615
Jumat, 19 Juni 2015
DI SUATU NEGERI
musim berganti
kita menikmati sinar matahari
dibawah tangis hujan berhari-hari
di suatu negeri
musim berselang
kita tertawa senyum berkelang
dibawah hujan tak kunjung menjelang
di suatu negeri
adakah kita mau berbagi cahaya hangat
tawa, senyum dan matahari
untuk mereka
di suatu negeri
MkS, 190615
kita menikmati sinar matahari
dibawah tangis hujan berhari-hari
di suatu negeri
musim berselang
kita tertawa senyum berkelang
dibawah hujan tak kunjung menjelang
di suatu negeri
adakah kita mau berbagi cahaya hangat
tawa, senyum dan matahari
untuk mereka
di suatu negeri
MkS, 190615
DALAM SENJA
Sesaat dalam suatu senja,
Dirimu bergegas hilang
Aku mencoba mengejar
Namun tak dapat menggapai
Padahal begitu lama menunggu
Lalu sua hanya semu
Aku, mungkin tak bosan
Selalu harap temu, walau itu hanya bayangmu.
Makassar, 17072014
RENUNGAN
kita memikirkan pagi
ketika senyum mentari setengah berseri
bergaung : apakah kita berarti atau hanya menunggu mati?
berlalu masa dalam sunyi
perlahan kita saling pandang
lalu kidung berkumandang
mengantar kita pada pulang petang
tanpa jawaban datang
kita mematut sendiri
hingga malam menjadi iri
penjelajahan tentang diri tak bisa berhenti
kerinduan itu menjadi-jadi
angin utara mengudara
dan kita masih saja bergumam
"arti kemanusiaan harganya berapa?"
sambil diam-diam berdoa
"semoga damai tercipta" (berulang kali)
sambil mencengkeram leher Rohingya
MkS, 190615
ketika senyum mentari setengah berseri
bergaung : apakah kita berarti atau hanya menunggu mati?
berlalu masa dalam sunyi
perlahan kita saling pandang
lalu kidung berkumandang
mengantar kita pada pulang petang
tanpa jawaban datang
kita mematut sendiri
hingga malam menjadi iri
penjelajahan tentang diri tak bisa berhenti
kerinduan itu menjadi-jadi
angin utara mengudara
dan kita masih saja bergumam
"arti kemanusiaan harganya berapa?"
sambil diam-diam berdoa
"semoga damai tercipta" (berulang kali)
sambil mencengkeram leher Rohingya
MkS, 190615
Kamis, 18 Juni 2015
PUASA
adalah
ketiadaan
ketahanan
kekuatan
kedalaman
kedekatan
Engkau dan aku
1 Ramadhan 1436 H
MkS, 180615
ketiadaan
ketahanan
kekuatan
kedalaman
kedekatan
Engkau dan aku
1 Ramadhan 1436 H
MkS, 180615
Rabu, 17 Juni 2015
KEJORA
wahai kejora,
jiwaku bergelora
bukan asmara
namun angkara
pada dara
seberang samudra
menoreh luka
membuka petaka
terbuanglah suka
lalu
aku bagaimana?
berlari atau menari
tenggelam duka sendiri
kesumat atau tak ingat
karam lara menyengat
Atau menatapmu saja?
MkS, 170615
jiwaku bergelora
bukan asmara
namun angkara
pada dara
seberang samudra
menoreh luka
membuka petaka
terbuanglah suka
lalu
aku bagaimana?
berlari atau menari
tenggelam duka sendiri
kesumat atau tak ingat
karam lara menyengat
Atau menatapmu saja?
MkS, 170615
Selasa, 16 Juni 2015
TOBAT 1
Kerap aku marah
Sering doa kuanggap murah
Banyak kali kubuat dosa berdarah-darah
Dan sempit kalbu
jiwa penuh berdebu
bersimpuh padaMu
aku tak mampu
air mata tak cukup tumpah
membasuh diri dari sampah
namun, terimalah....
dalam sajadah hitam aku bersujud
MkS, 160615
Sering doa kuanggap murah
Banyak kali kubuat dosa berdarah-darah
Dan sempit kalbu
jiwa penuh berdebu
bersimpuh padaMu
aku tak mampu
air mata tak cukup tumpah
membasuh diri dari sampah
namun, terimalah....
dalam sajadah hitam aku bersujud
MkS, 160615
Senin, 15 Juni 2015
Jumat, 12 Juni 2015
SERAPAH
SERAPAH
Sepah!
Sampah!
Patut ke mukanya lemparkan terompah!
Biar jalan berpapah!
TERLALU!
Dasar tak tahu malu!
Lidah bak sembilu!
Hidup bagai benalu!
Pantas kepalanya dipalu!
MkS, 120615
Sepah!
Sampah!
Patut ke mukanya lemparkan terompah!
Biar jalan berpapah!
TERLALU!
Dasar tak tahu malu!
Lidah bak sembilu!
Hidup bagai benalu!
Pantas kepalanya dipalu!
MkS, 120615
Kamis, 11 Juni 2015
Rabu, 10 Juni 2015
KEKAL RINDU
KEKAL RINDU
Jam dinding berdentang dua belas kali
Bayangan kian meninggi
Aku masih disini, menggenapi rindu nyaring bernyanyi
Tak terhitung waktu menunggu
Jam itu berdentang dua belas kali entah selama berapa hari:
Tiga ratus enam puluh lima atau seribu delapan ratus dua puluh lima hari
Tak peduli! Aku menunggu!
Rindu mengambang untukmu
dalam malam jelang siang
berjalan saja, karena aku masih bertenaga
menunggumu hingga datang Durga
atau nanti kita bertemu di surga?
MkS, 100615
Selasa, 09 Juni 2015
PANGGIL AKU SEPI
PANGGIL AKU SEPI
Panggil aku Sepi,
Sepi saja tanpa judul apalah itu
dan aku akan segera menemanimu
Panggil aku Sepi,
tanpa basa-basi aku langsung ada disisimu
tiap kamu butuh aku
Panggil aku Sepi,
boleh berteriak, berbisik atau bersenandung
aku pasti datang
dan kamu tidak sendiri
bergumul dengan resah......
MkS, 090615
Panggil aku Sepi,
Sepi saja tanpa judul apalah itu
dan aku akan segera menemanimu
Panggil aku Sepi,
tanpa basa-basi aku langsung ada disisimu
tiap kamu butuh aku
Panggil aku Sepi,
boleh berteriak, berbisik atau bersenandung
aku pasti datang
dan kamu tidak sendiri
bergumul dengan resah......
MkS, 090615
Senin, 08 Juni 2015
RENCANA SEMPURNA
RENCANA SEMPURNA
Apartemen Royals Rose, kamar 203, jam 19.30 waktu setempat, di atas spring bed dengan sprei polkadot hitam dan kuning terang. Aku membaringkan tubuhku dengan posisi terlentang. Tangan kuletakkan di bawah kepala. Nyaman, setelah tubuh ini terbasuh air hangat menghilangkan penat karena syuting seharian.
Aku Wayu Gumilang. Usia 30 tahun. Perfeksionis. Narsistik. Status belum menikah. Aktor papan atas saat ini. Film yang kubintangi selalu box office. Sinetronku berada pada rating tertinggi. Bukan sombong, ini kenyataan. Untuk sekarang aku adalah selebritis paling terkenal.
Aku berada di puncak. Dan aku tidak puas. Seharusnya aku bisa lebih terkenal hingga bisa dikenang dan menjadi bagian sejarah negeri ini. Dibicarakan, dituliskan dan didiskusikan dalam forum bahkan masuk buku pelajaran sekolah. Hmm... Aku memikirkan caranya : Mampu kulakukan juga fenomenal.
Aha! Kematian.
Tapi kematianku harus dengan cara yang tidak biasa. Cara yang modern sehingga menjadi kematian yang elegan dan sensasional. Bukan kecelakaan atau kematian karena penyakit kronis. Jadi menurutku kemungkinan terbesar ada 2 yaitu dibunuh atau bunuh diri. Kalau dibunuh, aku takut yang dikenang adalah sang pembunuh bukan aku si korban pembunuhan (walaupun nanti dikenang paling hanya sebagai artis dengan kematian tragis sebagai korban pembunuhan) maka kemungkinan ini tidak mungkin. Karena keinginanku hanya aku yang dikenang, dengan cara apapun itu. Jadi yah kemungkinan kedua : Bunuh diri. Tak ketinggalan aku juga akan menuliskan pesan kematianku.
Aku bangkit, menuju meja kerjaku. Kuraih Parker kesayanganku dan selembar kertas HVS ukuran folio. Mulai berpikir dan menulis rencana.
Metode 1. Iris urat nadi tangan dalam bathtub hotel terkenal. Waktu jam 19.00. Air dalam bathtub terisi setengah. Aroma terapi lavender untuk efek dramatis akan kutambahkan di pinggir bathtub. Pesan kematian aku letakkan di lantai, sedikit terkena air.
Aku mengambil silet. Memegangnya dan menempelkannya pada kulit tanganku lalu kutekan sedikit. Darah menetes. Perih. Kuhentikan segera. Kulit ini asetku. Nanti saat dikebumikan penampilanku berkurang keindahannya karena bekas luka di tangan. Lagipula ini cara kuno.
Metode 2. Gantung diri dengan selendang/syal di gudang peralatan Production House X. Waktu jam 04.00, tepat selesai syuting. Aku akan memakai baju bersaku atau jaket kulit hitam. Pesan kematian kuselipkan di dalam saku.
Kuambil syal berwarna kuning yang merupakan favoritku dari lemari, kulilitkan di leher sekencangnya hingga kuterbatuk. Huk!Huk! Lidahku menjulur keluar. Mataku melotot. Aih, Jelek! Wajahku yang mempesona ini pasti terlihat aneh. Aku menggeleng, cara usang yang tidak kuinginkan.
Sudah dua metode, saatnya memikirkan pesan kematian seperti apa yang akan aku tulis. Isinya harus mendukung rencana, dengan bumbu dramatis sehingga kematianku mencerminkan keberanian bukan keputusasaan. Kira-kira seperti apa? Beginikah:
Untuk semua orang yang peduli padaku. Setelah membaca ini berarti aku sudah tidak di dunia lagi. Aku melakukan aksi bukan karena depresi, tapi sebagai bentuk protes terhadap keadaan yang terjadi di negeri ini yang penuh ketidakadilan. Semoga aksi ini menyadarkan orang-orang berkepentingan untuk lebih memakai nurani bukan hanya mementingkan money untuk kepentingan sendiri.
Ah, pesan kematian apa ini.... Aku tidak seheroik itu. Memikirkan negeri sampai bunuh diri? Yang benar saja...Sejatinya aku hanya mencari sensasi, dan pesan itu cukup panjang seperti surat saja. Atau seperti ini:
Aku mati tapi abadi...
Kucoret berkali. Pendek dan terlalu absurd. Maksudku nanti tidak tersampaikan, tulisan pendek itu tidak mencerminkan keberanian tapi lebih sesuatu yang berbau drama. Terlalu kentara bahwa aku hanya mencari sensasi. Kurang berkelas menurutku.
Kematianku adalah caraku untuk berada dalam kenangan kalian selamanya.
Pesan yang cukup bagus. Aku tuliskan ini saja. Tidak diketik tapi tulisan tanganku sendiri dengan huruf bersambung agar berkesan elegan. Kertas yang kupilih adalah kertas tipis berwarna kuning muda dan nanti parfum yang biasa kupakai disemprotkan agar kenangan tentangku lebih menguat.
Metode 3. Terjun dari lantai teratas (minimal lantai 12) Apartemenku. Waktu 08.00 saat lalu-lintas di depan apartemen sedang ramai. Pesan kematian aku genggam erat.
Aku takut ketinggian. Apa mungkin naik ke lantai setinggi itu? Jangan-jangan baru lantai delapan aku sudah mati lemas di lift. Aduh, ini mengacaukan rencana... Nanti setelah kematianku dianalisis forensik akan ketahuan kalau itu karena fobia ketinggian. Jangan sampai! Imejku sebagai aktor macho dan jantan menguap seketika. Dan kalau iya aku terjun maka nanti jasadku hancur lebur. Tidakkk!!
Tak ada yang sesuai keinginanku. Aku harus berselancar, bertanya pada Google mungkin pilihan terbaik untuk aksiku. Oke, kuhidupkan laptop, tancapkan modem lalu mulai berselancar. Terbuka Google, kuketik kata kunci ‘Cara bunuh diri elegan sensasional’.
Krriinngg....Krriingg..... Samsung S4 berdering mengagetkanku. Kulihat layarnya. Ternyata Jaka manajerku.
“Ya, Hallo.... Ada apa Ka?” sambutku, malas-malasan.
“Lagi apa, Bro?”
“Googling” sahutku pendek
“Mmh...sudah siap untuk jadwal besok? Err..googling? Googling apa?” tanya Jaka beruntun
“Sipp. Stamina oke. Siap sekali untuk besok.” Kujeda sebentar, “Googling untuk membuatku lebih terkenal, Ka.”
“Apa maksudmu, Bro?”
“Aku mencari cara bunuh diri yang... bagaimana yaa... bunuh diri penuh sensasi begitu..”
“Ohh, dasar gila! Tapi besok sadar lagi dan jam 6 pagi kujemput. Oke, Bro? Bye..”, klik Jaka memutuskan teleponnya.
Aku kembali asyik berselancar selama 1 jam. Ah, lelah. Ini yang aku dapatkan dari Google, setelah melalui penyaringan dalam pikiranku sendiri.
Metode 4. Naik mobil sport mewahku sekencang-kencangnya lalu menabrakkan diri ke trotoar Jalan Jendral Sudirman (Jalan Utama kota). Waktu 23.00 atau setelah selesai syuting (biasanya hingga 03.00 dinihari)
Tapi mobilku mempunyai sistem keamanan yang baik kalau nanti tertabrak lalu sistemnya bekerja, maka aku rugi luar biasa karena aku tetap hidup (mungkin dengan sedikit luka atau cacat) tetapi mobilku penyok disana-sini. Atau jika ternyata setelah tabrakan mobil langsung meledak, jasadku hitam legam. Cepat-cepat metode ini kucoret dari catatanku. Tak akan kupilih.
Krriinngg....Krriingg..... handphoneku berdering kembali. Dan lagi-lagi manajerku.
“Ya...?” sahutku
“Bro, maaf ada yang lupa tadi. Ini baru ingat setelah membuka buku jadwalmu. Besok tolong siapkan sekotak coklat. Dan berikan pada Aranda Mira lawan mainmu. Penting ini, Bro... untuk lebih membangun chemistry antara kalian berdua dalam drama terbarumu.”
“Oh, itu... sudah malam begini. Dimana aku bisa beli coklatnya?” nada bicaraku agak meninggi. Gusar. “Aku juga sudah mau istirahat ini Ka, persiapan besok syuting...”
“Lho itu yang ada dalam kantong plastik putih supermaket XXX. Kuletakkan di dalam kulkasmu Wayu... tray kedua. Maksudku disiapkan adalah tolong beri sentuhan pribadimu pada coklat itu.” Jelas Jaka panjang.
“Begitu? Baiklah, nanti aku bungkus dengan kertas hias yang ada. Juga sedikit kata-kata mesra pada kartunya. Cukup, Ka?”
“Beress. Cukuplah itu, Bro. Bye lagii...”
“Tunggu, Ka...” kalimatku menggantung. Sial, Jaka terlanjur menutup teleponnya. Aku bermaksud bertanya padanya tentang cara bunuh diri yang..yah elegan dan sensasional.
Baru saja akan melanjutkan menulis, hpku berdering. Kali ini “si Cantik” tertera di layarnya. Itu Aranda Mira, lawan mainku dalam drama terbaru. Huh! Aku mendengus. Kebetulan yang menjengkelkan. Kubiarkan saja berdering beberapa kali. Baru kuangkat.
“Halo, Sayang....Selamat malam..” ujarku dengan suara lembut dibuat-buat.
“Halo, Mas Wayu... Kok lama angkatnya? Malas terima telpon dari saya?” Balasnya.
“Adduh... bukan begitu, Sayang. Tadi saya di kamar mandi. Jadi, ada apa Dinda sayang?” sahutku masih dengan suara dibuat-buat. Aranda ini punya sifat jelek. Ia cepat berubah mood jika kita tidak bisa mengambil hatinya.
“Iiih... Mas Wayu genitt deh....By the way, besok kita satu scene kan? Ini ada dialog pada halaman 15 baris keenam yang menurut saya kurang mengena. Saya akan mengusulkan perubahan dialognya. Saya minta dukungan Mas Wayu untuk menguatkan pendapat saya. Bagaimana?”
Aku bergegas membongkar tasku mencari naskah cerita drama untuk pengambilan adegan besok. Lalu membuka halaman yang dikatakan Aranda dan membacanya.
“Hmmm... baris ini yaa... Betul katamu, Sayang. Tentu saya mendukung. Ini demi kebaikan drama kita kan? “ Aku berhenti sebentar.” Besok mau saya jemput? Kita sama-sama ke lokasi syuting?”
Aranda tertawa kecil mendengar tawaranku. “Tidak takut akan digosipkan, Mas?”
“Kalau digosipkan dengan kamu tentu saja saya mau, Sayang. Bagaimana?” Sahutku tenang. Walaupun dalam hati berkata sebaliknya. Siapa tahan menjadi kekasih seorang gadis yang moody. Aku bukan orang yang sabar.
“Hihihi...Maaf, Mas... Saya tidak tahan digosipkan. Belum waktunya lagi. Hihihi... Sudah ya Mas Wayu.. Itu saja.”
“Oke, Sayang. Tunggu kejutan dari saya besok ya..” Syukurlah, dia tidak mau. Aku tidak perlu repot-repot ke rumah Aranda yang berlawanan dengan tempat syuting. Lalu beramah tamah dengan keluarganya. Aku benci basa-basi seperti itu.
“Kejutan apa?” suara Aranda terdengar terkejut
“Tunggu saja besok. Kalau saya beri tahu sekarang namanya bukan kejutan, Sayangku.”
“Mas Wayu ini bisaa saja. Okelah. Saya tunggu besok. Selamat istirahat.” Aranda mematikan telponnya. Suaranya terdengar senang.
Akhirnya, aku mendapatkan ketenangan. Handphone aku matikan. Aku tidak mau lagi mendapat gangguan. Kulanjutkan rencanaku. Kembali aku berkutat dengan pena dan kertas. Entah sudah berapa lembar kertas penuh coretan tulisan atau hanya gambar-gambar pemecah kejenuhan dalam penyusunan rencana ini.
Metode 5. Sengatan listrik (Wuah, spektakuler. Aku membuka mataku lebar-lebar dan mengembangkan senyum). Berapa volt yang aku perlukan agar aku segera tiada ya? 5000 volt, cukup? Mungkin. Waktu yang tepat malam hari sekitar jam 20.00. Tempatnya? Nah ini yang aku bingung, dimana aku bisa mendapatkan tegangan listrik sebesar itu. Pusat persediaan listrik kota? Terlalu mencolok. Nanti aku disangka kurang kerjaan jika pergi kesana. Sudahlah, metode ini rumit. Aku mencoretnya dari daftar rencana.
Metode 6. Minum racun. Tempatnya di apartemenku sendiri. Waktu 13.00. Racun yang kupilih cairan pembasmi serangga atau arsenik. Pesan kematian kuletakkan diatas meja kecil tempat lampu tidurku berada.
Racun pembasmi serangga dengan mudah aku dapatkan di toko terdekat. Tapi jika aku memilih arsenik maka harus ke toko penjual bahan-bahan kimia. Dan apakah penjualnya akan membolehkan aku membeli begitu saja. Sepertinya arsenik bukan pilihan, terlalu sulit untuk mendapatkannya.
Minum racun merupakan cara efisien. Tapi untuk meregang nyawa harus menderita sakit luar biasa (itu yang kubaca dari sebuah artikel koran ibukota), dan mengeluarkan busa-busa dari mulut. Belum lagi kejang otot. Hiiy...pasti estetikaku berada pada titik nol. Kugelengkan kepala.
Metode 7. Menceburkan diri di telaga pinggir kota. Hari Minggu, kira-kira jam 5.00 sampai 06.00 pagi. Aku akan memakai jaket panjang coklatku dan sepatu boot. Pesan kematian aku letakkan dalam amplop waterproof dan kusimpan dalam saku jaketku yang beresleting.
Aku bisa beralasan untuk berlibur sejenak, dan aku punya jatah libur. Satu bulan dari sekarang. Hanya 1 hari. Tapi itu cukup jika aku memilih cara ini.
Tapi kubayangkan : Tenggelam. Lalu mengapung, dengan jasad kembung. No..no...no.
Metode 8. Pistol yang kutembakkan tepat ditengah antara kedua mataku. Tempat beraksi adalah apartemenku sendiri tentunya. Jam 17.00 saat aku libur syuting. Pesan kematian cukup diletakkan di atas meja. Jadi nanti setelah aku terkulai menembak diri sedikit percikan darah membuat pesan kematianku dramatis.
Dimana aku bisa mendapatkan pistolnya? Pistol yang digunakan syuting bukan pistol asli. Untuk membeli pistol asli sepertinya ada aturannya. Kalau beli di pasar gelap terlalu beresiko diketahui wartawan. Aku ambil eye liner membentuk bulatan tepat ditengah kening seperti bekas moncong pistol. Kuamati di cermin. Jika saja benar tandanya bulat, mungkin wajah jasadku akan artistik seakan-akan bekas tembakan adalah mata ketiga. Tapi biasanya bekas tembakan tidak bulat sempurna, apalagi ditembakkan dari jarak dekat. Ada bias retak tulang tengkorakku.
Brakk! Kutendang kaki meja. Aku kesal. Semua metode yang kususun ternyata ada cacatnya. Tidak elegan, tidak sensasional, apalagi fenomenal. Kubertopang dagu, menatap dinding di depan mejaku. Lelah menerpa tubuhku.Saatnya tidur.
Tiga minggu kemudian.
“Inikah akhirku? Kapan sutradara berkata ‘Cut!’Perih, sakit,... dan inikah rencanaNya?” Seruku dalam hati. Aku memegang dada kiri. Aranda seharusnya menusukku di bagian perut dimana kantong berisi darah palsu berada. Tapi wajah Aranda tampak puas. Apakah dia sengaja melakukan itu?
Surat kabar dan TV swasta nasional menampilkan berita cukup mengejutkan : Aktor terkenal meninggal dunia di lokasi syuting dalam usia cukup muda dengan pisau menancap di dada. Diduga kematian terjadi saat ia syuting drama terbarunya bersama Aranda Mira.
Makassar, 11-12-13
TAK ADA LAGI
TAK ADA LAGI
Tak ada lagi warna pelangi di wajahmu
hujan mengurungnya
mentari enggan menyapa
dan kau biasa saja.
Tak ada lagi pelangi
tawa senyummu semu
tangis laramu terus bertamu
dan kau biasa saja.
Tak ada lagi
kau mengatup bibirmu,
kau menutup matamu
menggenapi rasa tanpa warna
menyusuri langitmu,
tentu dengan pelangi hanya abu-abu
MkS, 080615